Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Top 5 News Bisnisindonesia.id: Saham Terburuk GOTO hingga Prospek Properti 2023

Kinerja GOTO menjadi satu dari lima berita pilihan yang kami rangkum dalam Top 5 News edisi Senin (5/12/2022). Berikut ulasan selengkapnya:
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 05 Desember 2022  |  13:02 WIB
Top 5 News Bisnisindonesia.id: Saham Terburuk GOTO hingga Prospek Properti 2023
Warga berbelanja secara daring menggunakan e-commerce Tokopedia di Jakarta, Minggu (17/7/2022). Bisnis - Himawan L Nugraha
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Pencatatan saham emiten teknologi PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) dinilai menjadi pencatatan saham teknologi terburuk di dunia. 

Kinerja GOTO menjadi satu dari lima berita pilihan yang kami rangkum dalam Top 5 News edisi Senin (5/12/2022). Berikut ulasan selengkapnya:

1. Antara Asa GOTO & Label Kinerja Saham Tekno Terburuk di Dunia

Sebagai konteks, saham emiten sektor teknologi memang tak kunjung pulih dari tren kerontokan harga sejak awal tahun. Pengetatan moneter global, tekanan inflasi, dan pelemahan daya beli menjadi pukulan telah terhadap sektor ini.

Tak ayal, emiten dengan kode GOTO tersebut juga ikut tertekan. Saat melantai di lantai bursa, GOTO digadang-gadang dapat menjadi emiten yang mendongkrak indeks sektor saham teknologi. 

Kondisi pada awal pandemi Covid-19 sempat mengantarkan indeks tumbuh nyarir 185 persen.  Namun, kondisi berbalik, indeks IDX Techno saat ini mencetak koreksi tahun berjalan paling dalam yakni 36,22 persen.

Aksi jual saham setelah IPO GOTO menjadikan saham GOTO sebagai saham teknologi berkinerja terburuk di antara 11 perusahaan teknologi dan internet yang mengumpulkan dana IPO lebih dari US$500 juta dalam penawaran saham perdana tahun ini.

2. Berhitung Pasar Properti Rumah 2023, Masih Prospektif?

Sektor properti residensial sudah terbukti tahan banting dalam menghadapi berbagai tekanan ekonomi dan kondisi sulit sekalipun. Dalam 2 tahun terakhir, saat pandemi melanda Tanah Air, properti residensial menjadi salah satu sektor yang mampu bertahan. Bahkan, mengalami peningkatan penjualan. 

Dalam Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia, penjualan properti residensial primer kuartal III tahun 2022 mengalami pertumbuhan sebesar 13,58 persen (year on year/yoy). Namun demikian, penjualan pada kuartal III tahun ini lebih rendah bila dibandingkan kuartal II tahun 2022 yang sebesar 15,23 persen. 

Perkembangan penjualan pada kuartal III 2022 yang tetap kuat terutama ditopang oleh meningkatnya penjualan tipe rumah kecil yang tercatat tumbuh sebesar 30,77 persen (yoy), lebih tinggi dari 14,44 persen (yoy) pada kuartal sebelumnya.

3. Pembengkakan Utang Global Kian Mengkhawatirkan 

Lembaga pendanaan internasional mengungkapkan kekhawatirannya terhadap pembengkakan utang baik di negara miskin dan kaya. Hal itu juga dipicu oleh kurangnya inisiatif China sebagai kreditur terbesar dunia untuk berperan terhadap restrukturisasi utang.  

Malpass mengatakan bahwa lembaga keuangan internasional sudah sejak lama memberi peringatan adanya kenaikan utang, terutama seiring dengan kenaikan suku bunga acuan yang dilakukan untuk meredam inflasi.

"Saya khawatir akan kekacauan pada gagal bayar di mana tidak adanya sistem yang benar-benar dapat mengatasi masalah di negara miskin," katanya dalam sebuah acara yang diadakan oleh Reuters pada Kamis, seperti dikutip Bisnis.com yang melansir Bloomberg pada Jumat (2/12/2022). 

"Kita juga harus mengatasi masalah di negara ekonomi maju. Negara-negara raksasa ini menumpuk utang. Dengan kenaikan suku bunga acuan, biaya utang akhirnya naik dan itu menimbulkan beban yang besar dari dunia," ungkapnya.

4. Wangi Janji Pada Industri Minyak Atsiri

Indonesia juga merupakan salah satu eksportir minyak atsiri. Berdasarkan data trademap, nilai ekspor minyak atsiri Indonesia mencapai US$882,64 juta, naik dari tahun sebelumnya US$784,92 juta.

Akan tetapi, Indonesia juga merupakan negara pengimpor minyak atsiri. Bahkan nilainya jauh lebih besar ketimbangkan ekspornya, sehingga membuat neraca perdagangan komoditas berkode HS 33 itu selalu defisit setiap tahunnya.

Pada 2021, nilai impor minyak atsiri Indonesia mencapai US$1,27 miliar, naik dari tahun sebelumnya US$1,13 miliar. Defisit neraca dagangnya pun membengkak dari US$347,00 juta menjadi US$389,42 juta

5. Industri Mebel Alihkan Fokus ke Pasar Domestik Jelang Tahun Baru

Eksportir di industri furnitur Tanah Air perlu memperkuat pasar domestik memasuki tahun 2023, utamanya yang berasal dari belanja pemerintah yang potensinya mencapai Rp80 triliun. 

Ketua Presidium Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur mengatakan untuk tahap awal ditargetkan sebanyak 200 perusahaan eksportir furnitur akan merambah pasar dalam negeri. 

Menurut Sobur, salah satu target yang disasar adalah anggaran belanja pemerintah dengan menggunakan strategi penyiapan etalase atau katalog produk guna menyambut peluang tersebut. 

"Untuk masuk ke pasar domestik, tahun depan akan dibuat katalog bersama demi menyambut program pemerintah yang ditaksir memiliki potensi pasar mencapai Rp50 triliun - Rp80 triliun per tahun," kata Sobur kepada Bisnis, Minggu (4/12/2022).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Goto GoTo Gojek Tokopedia bisnis properti properti industri furnitur restrukturisasi utang utang
Editor : Rayful Mudassir
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top