Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Terdampak Sentimen Global, Rupiah Melemah ke Rp15.712

Pelemahan ini terjadi seiring adanya sentimen global seperti kenaikan kasus Covid-19 dan penembakan pada pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia Ukraina.
Nuhansa Mikrefin Yoedo Putra
Nuhansa Mikrefin Yoedo Putra - Bisnis.com 21 November 2022  |  15:50 WIB
Terdampak Sentimen Global, Rupiah Melemah ke Rp15.712
Karyawan melintasi papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (10/11/2022). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada perdagangan awal pekan Senin (21/11/2022). Pelemahan ini membawa rupiah menjadi mata uang dengan koreksi terdalam pada perdagangan hari ini. Pelemahan ini terjadi seiring adanya sentimen global seperti kenaikan kasus Covid-19 dan penembakan pada pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia Ukraina.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah mengakhiri perdagangan dengan pelemahan sebesar 0,18 persen atau 28,5 poin ke Rp15.712 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau menguat 0,52 persen ke 107,48.

Di tengah pelemahan mata uang rupiah, mata uang di kawasan Asia juga turut terkoreksi. Beberapa di antaranya adalah won Korea Selatan 1,12 persen, baht Thailand 0,96 persen, yuan Cina 0,63 persen, yen Jepang 0,39 persen, ringgit Malaysia 0,36 persen, dolar Singapura 0,26 persen, dolar Taiwan 0,22 persen,  peso Filipina 0,17 persen, dan rupee India 0,12 persen.

Sementara itu beberapa mata uang yang terpantau menguat pada hari ini hanya dolar Hong Kong yang menguat 0,14 persen.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan salah satu penyebab menguatnya nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang di dunia adalah adanya meningkatnya kasus Covid-19 dan pengetatan pembatasan di beberapa kota dengan perekonomian besar.

Meningkatnya kasus Covid-19 menbuat adanya keraguan akan dilonggarkannya pembatasan aktivias masyarakat. Beijing melaporkan adanya dua kematian akibat Covid-19 pada 20 November 2022.

Hal lain yang menjadi sentimen global menguatnya dolar AS adalah potensi krisis nuklir dalam konflik Rusia-Ukraina di tengah penembakan pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia Ukraina. Sentimen ini lantas mendorong aliran safe haven ke dalam dolar, kemudian prospek dolar juga terdongkrak oleh adanya sinyak hawkish dari bank sentral AS atau the Fed pada pekan lalu.

"Investor akan sangat tertarik dengan risalah dari pertemuan November The Fed yang akan dirilis pada hari Rabu untuk setiap petunjuk tentang bagaimana pejabat tinggi pada akhirnya berharap untuk menaikkan suku bunga," ujar Ibrahim dalam risetnya pada Senin (21/11/2022).

Dari dalam negeri, naiknya suku bunga acuan dari Bank Indonesia (BI) menjadi 5,25 persen jelas berdampak negatif bagi perekonomian Indonesia. Dampak yang paling terasa dengan kenaikan suku bunga adalah naiknya suku bunga kredit perbankan dan lembaga keuangan.

Adanya kenaikan suku bunga kredit paling dirasakan oleh pelaku industri lantaran meningkatkan biaya modal. Padahal selama ini mereka sudah terbebani oleh kenaikan harga input produksi & energi.

Ibrahim menyebut pemerintah perlu membuat kebijakan yang dapat meredam efek kenaikan suku bunga baik dari sisi supply maupun demand. Pemerintah dapat memberikan relaksasi terhadap pungutan yang menjadi beban pelaku industri.

Selain itu, melalui kebijakan fiskal pemerintah dapat memberikan relaksasi pajak berupa tax holiday dan memberikan subsidi suku bunga khusus untuk sektor padat karya. Hal ini dinilai dapat mengurangi beban biaya modal yang meningkat akibat kenaikan suku bunga.

"Dengan adanya insentif dari pemerintah, maka memangkas biaya modal, sehingga diharapkan tidak perlu lagi efisiens dari sumber daya manusia, alias melakukan PHK. Kemudian dari sisi demand, pemerintah diminta terus menggelontorkan program jaring pengaman sosial untuk menjaga daya beli masyarakat. Misalnya Bansos, BSU dan BLT," jelas Ibrahim.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gonjang Ganjing Rupiah dolar as Covid-19 Perang Rusia Ukraina Kebijakan The Fed
Editor : Ibad Durrohman
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top