Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga CPO Anjlok 3,7 Persen, Ini Penyebab dan Proyeksinya ke Depan

Harga CPO anjlok tertekan penguatan ringgit Malaysia, potensi pertumbuhan produksi, dan tingkat stok yang masih tinggi.
Harga CPO anjlok tertekan penguatan ringgit Malaysia, potensi pertumbuhan produksi, dan tingkat stok yang masih tinggi. / The Edge Markets
Harga CPO anjlok tertekan penguatan ringgit Malaysia, potensi pertumbuhan produksi, dan tingkat stok yang masih tinggi. / The Edge Markets

Bisnis.com, JAKARTA – Harga komoditas Crude Palm Oil (CPO) anjlok karena penguatan ringgit terhadap dolar AS, serta kekhawatiran atas produksi dan persediaan yang tinggi menyebabkan sentimen investor kembali tertekan.

Pada perdagangan Senin (14/11/2022) pukul 16.06 WIB, harga CPO kontrak teraktif Januari 2023 di Bursa Malaysia anjlok 3,76 persen menjadi 4.126 ringgit per ton. Harga CPO sudah turun 22,6 persen sepanjang 2022.

Analis Komoditas dan Founder Traderindo.com Wahyu Laksono mengatakan bahwa koreksi harga CPO diiringi oleh ketidakpastian global dalam cuaca, geopolitik dan ekonomi yang telah menyebabkan perubahan harga yang luas tahun ini.

“Aksi ambil untung yang wajar menyusul reli di minggu sebelumnya naik sekitar 11 persen mingguan, mengikuti kenaikan minyak nabati saingan dan di belakang kenaikan harga sekaligus pelemahan ringgit terhadap dolar AS,” katanya menjawab pertanyaan Bisnis, Senin (14/11/2022).

Wahyu menduga jika produksi minyak sawit Malaysia pada bulan Oktober sebesar 2 hingga 6 persen lebih tinggi dari produksi bulan September, sementara ekspor terlihat dalam kisaran 1,43 hingga 1,48 juta ton.

“Gangguan pasokan minyak sawit karena badai tropis di produsen utama Indonesia dan Malaysia diperkirakan akan berlanjut hingga kuartal pertama 2023, sehingga cuaca jadi salah satu faktor. Musim hujan meningkat di Malaysia dan telah memicu banjir di seluruh negeri, produsen minyak sawit terbesar kedua di dunia, selama seminggu terakhir,” lanjutnya.

Harga minyak sawit yang rendah dalam beberapa bulan terakhir mendorong negara-negara pengimpor minyak sawit utama seperti China dan India untuk meningkatkan kegiatan pengisian minyak sawit mereka. Hal itu memicu tingkat persediaan minyak nabati yang lebih tinggi, yang menunjukkan potensi terbatas untuk pengisian yang lebih agresif.

Wahyu menambahkan meski terkoreksi, harga CPO potensial untuk rebound karena keseimbangan penawaran dan permintaan akan terpengaruh oleh pergeseran pola cuaca, situasi tenaga kerja, volatilitas mata uang dan ketidakstabilan kebijakan dan geopolitik.

“Stabilitas harga mulai terjadi dan itu normal,” ungkapnya.

Wahyu juga memproyeksikan jika dalam jangka pendek harga CPO akan terkonsolidasi di posisi 3.500 hingga 4.500.

“Medium term hingga semester II/2023 di posisi 3.000-5.000. Artinya 4.000 adalah Level wajar saat ini sebagai frequently area,” imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis : Artha Adventy
Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper