Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rupiah Ditutup Melemah Bersama Dolar AS Jelang Rilis Data Inflasi AS

Rupiah melemah bersamaan dengan indeks dolar AS ke Rp14.851 per dolar AS jelang rilis data inflasi malam ini.
Pecahan uang kertas baru Tahun Emisi 2022/Bank Indonesia
Pecahan uang kertas baru Tahun Emisi 2022/Bank Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA – Rupiah ditutup melemah ke Rp14.851 per dolar AS pada perdagangan Selasa (13/9/2022) kendati indeks dolar AS juga mengalami pelemahan.

Mengutip data Bloomberg, Selasa (13/9/2022), rupiah terpantau ditutup melemah 0,06 persen atau 9,5 persen ke Rp14.851,5 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau melemah 0,31 persen atau 0,34 poin ke 107,98.

Bersama dengan rupiah, mata uang ringgit Malaysia juga melemah 0,12 persen, yuan China melemah 0,05 persen, dan dolar Taiwan melemah 0,10 persen.

Sementara itu, mata uang lainnya di Asia mengalami penguatan seperti yen Jepang menguat 0,38 persen, dolar Singapura menguat 0,10 persen, won Korea Selatan menguat 0,66 persen, peso Filipina menguat 0,14 persen, dan rupee India menguat 0,41 persen.

Macro Equity Strategist Samuel Sekuritas Indonesia Lionel Priyadi mengatakan bahwa pelemahan dolar AS lantaran pasar masih menantikan rilis data inflasi AS.

“Kami pikir pergerakan indeks dolar AS ke depan akan lebih situasional, tergantung pada rilis data inflasi AS malam ini. Jika datanya menunjukkan penurunan inflasi, indeks dolar AS mungkin turun ke bawah 108 dan bertahan di kisaran 105-108. Jika tidak, indeks dolar dapat berkonsolidasi di sekitar support 108 sebelum naik lagi ke 110,” ungkapnya dalam riset, Selasa (13/9/2022).

Di sisi lain, pelemahan rupiah dikarenakan permasalahan terkait BBM yang tak kunjung usai. Pemerintah dan Badan Anggaran DPR menyepakati kenaikan anggaran subsidi energi 2023 menjadi Rp211,9 triliun, naik tipis dari usulan awal pemerintah sebesar Rp210,6 triliun Agustus lalu.

Kementerian Keuangan masih menghitung besaran dana kompensasi baik PLN maupun Pertamina. Fakta ini menunjukkan bahwa kenaikan harga BBM terbaru tidak menyelesaikan risiko fiskal yang muncul dari harga minyak dunia yang tinggi.

“Kami memperkirakan situasi fiskal pemerintah tetap berisiko pada musim dingin ini, karena serangan militer Ukraina di Kharkiv dan Kherson meningkat, yang dapat mendorong Rusia untuk terus menjadikan pasokan gasnya ke Eropa sebagai senjata negosiasi,” jelasnya.

Samuel Sekuritas Indonesia memperkirakan rupiah masih bakal melanjutkan pelemahan dan dapat bergerak atas kisaran Rp14.850 per dolar AS dan dalam jangka panjang dapat kembali mendekati Rp14.900 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Mutiara Nabila
Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper