Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pertama dalam Sejarah, Pendapatan Tencent Turun

Tencent mengalami penurunan pendapatan pada periode kuartal yang berakhir Juni 2022.
Herdanang Ahmad Fauzan
Herdanang Ahmad Fauzan - Bisnis.com 18 Agustus 2022  |  02:01 WIB
Pertama dalam Sejarah, Pendapatan Tencent Turun
Bendera Tencent Holdings Ltd. berkibar di luar gedung kantor pusat perusahaan tersebut di Beijing, China, Selasa (14/8/2018). - Bloomberg/Giulia Marchi
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Tencent Holdings akhirnya mesti menelan pil pahit. Pada periode kuartal yang berakhir 30 Juni 2022, untuk pertama kali dalam sejarah, kerajaan hiburan milik crazy rich Ma Huateng itu mengalami penurunan pendapatan kuartalan secara year-on-year (yoy).

Dalam kuartal terakhir itu, pemasukan Tencent mentok pada kisaran 134 miliar yuan atau setara US$19,8 miliar, 3 persen lebih kecil dari perolehan periode yang sama tahun lalu (yoy).

Sinyal terjangan ombak sebenarnya sudah tampak sejak kuartal yang berakhir Maret 2022, di mana pada periode tersebut Tencent sudah mengalammi penurunan laba 0,12 persen. Namun, pada momen yang sama, pendapatan perusahaan masih mengalami pertumbuhan.

Adapun pecah telur penurunan pendapatan pada kuartal yang berakhir Juni 2022, memiliki dampak yang mudah ditebak. Performa ini membuat laba perseroan turun lebih dalam secara yoy, yakni 56 persen ke level 18,62 miliar yuan. Angka ini juga meleset jauh dari ekspektasi konsensus, yang rata-rata masih mengekspektasikan bottom line perseroan mampu mencapai minimal 25,28 miliar yuan.

"Tencent telah mengencangkan sabuk pengaman karena industri teknologi memang sedang mengalami penurunan performa. Kini, kinerja perusahaan tergantung pada kemampuan mereka mengontrol biaya dan mengoptimasi operasional," papar analis Forsyth Barr Asia Willer Chen, dikutip dari Bloomberg.

Sebagai konteks, tahun ini Tencent juga telah melakukan kebijakan efisiensi dan memutus hubungan kerja (PHK) terhadap 5.000 karyawan yang merepresentasikan hampir 5 persen jumlah karyawan total perusahaan.

Ada sejumlah faktor yang disinyalir melandasi lesunya performa bisnis Tencent yang berujung hasrat besar untuk efisiensi. Mulai dari krisis pandemi dan kebijakan pembatasan sosial di China, hingga konflik dengan Beijing yang kemudian bikin Tencent harus melakukan beberapa divestasi.

Terakhir, perusahaan dikabarkan dalam proses menjual kepemilikan mereka di startup pesan antar makanan Meituan. Namun, belakangan kabar ini telah disanggah oleh Chief Strategy Officer Tencent James Mitchell.

"Pemberitaan itu tidak akurat," kata James.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tencent korporasi teknologi hong kong
Editor : Herdanang Ahmad Fauzan
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top