Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Rupiah Bisa Kembali ke Level Rp14.000-an dalam Waktu Dekat? Ini Alasannya

Sejumlah sentimen positif berpotensi mengerek nilai tukar rupiah ke level Rp14.057 per dolar AS dalam beberapa bulan mendatang.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 11 Agustus 2022  |  12:36 WIB
Rupiah Bisa Kembali ke Level Rp14.000-an dalam Waktu Dekat? Ini Alasannya
Mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat di salah satu money changer, Jakarta, Sabtu (30/7/2022). Bisnis - Himawan L Nugraha
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah diperkirakan dapat menguat ke level tertinggi tahun ini dalam beberapa bulan mendatang, ditopang oleh surplus neraca perdagangan dan imbal hasil obligasi yang menarik bagi investor asing.

Dilansir Bloomberg, Kepala analis TD Securities Mitul Kotecha memperkirakan rupiah dapat terapresiasi hingga Rp14.057 per dolar AS dalam tiga bulan ke depan, menyamai level tertinggi pada Oktober 2021.

Ia mengungkapkan proyeksi ini didasarkan oleh sejumlah sentimen positif, di antaranya imbal hasil obligasi yang menarik, meningkatnya ekspor minyak sawit ke China, membaiknya persyaratan perdagangan, dan prospek kenaikan suku bunga acuan.

“Indonesia akhirnya melihat kembalinya capital inflow ke pasar obligasi dan saham, menandai pembalikan signifikan dari tren pelemahan sebelumnya,” tulis Kotecha dalam riset yang dirilis sebelum data inflasi Juli AS, dikutip Bloomberg Kamis (11/8/2022).

Pada perdagangan hari ini hingga pukul 12.14 WIB, rupiah terpantau menguat 68 poin atau 0,46 persen ke level Rp14.802 per dolar AS, didorong oleh pelemahan dolar AS setelah data inflasi AS berada di bawah ekspektasi analis.

Sebelumnya, Departemen Tenaga Kerja AS mencatat indeks harga konsumen (CPI) AS naik 8,7 persen pada Juli 2022 dari periode yang sama tahun sebelumnya (yoy). Angka inflasi AS ini lebih rendah dari bulan Juni 2022 yang mencapai level tertinggi sejak 1981 di 9,1 persen.

Dibandingkan bulan sebelumnya, CPI AS tercatat stagnan. Adapun CPI inti, yang menghilangkan komponen makanan dan energi yang lebih mudah berubah, naik 0,3 persen mom dan 5,9 persen yoy.

Angka inflasi ini bawah median proyeksi ekonom dalam survei Bloomberg yang memperkirakan CPI AS naik 8,7 persen pada Juli. Adapun CPI inti diperkirakan naik 6,1 persen.

Bank Indonesia (BI) sejauh ini menahan diri untuk menaikkan suku bunga dan memperkirakan bahwa inflasi harga bahan pangan dapat mereda dalam beberapa bulan mendatang. Di sisi lain, bank sentral AS Federal Reserve secara agresif melakukan pengetatan moneter, meskipun perlambatan inflasi AS bulan lalu dapat memperlambat laju kenaikan suku bunga.

“Bank Indonesia kemungkinan akan memulai siklus kenaikan suku bunganya bulan ini dan mengubah sikapnya ke arah yang kurang akomodatif, yang juga akan membantu mendukung rupiah,” kata Kotecha.

Kotecha memperkirakan BI akan mempertahankan level rupiah di Rp15.000, sementara nilai suku bunga riil yang relatif lebih tinggi daripada negara lain di Asia memberikan perlindungan lebih terhadap nilai tukar.

Adapun JPMorgan Asset Managemetn sebelumnya mengatakan pasar obligasi Tanah Air menarik karena pasar kembali fokus pada fundamental ekonomi menyusul aksi jual negarutang dan pasar emerging market.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Rupiah nilai tukar rupiah dolar as dolar Bank Indonesia
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top