Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Suku Bunga The Fed Naik, Begini Nasib Obligasi Jatuh Tempo Rp54,75 Triliun

Seiring pemulihan ekonomi dan industri yang bertumbuh, penerbitan obligasi cukup marak dibandingkan dengan dua tahun belakangan.
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (20/7/2022). Bisnis/Fanny Kusumawardhani
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (20/7/2022). Bisnis/Fanny Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA - Para emiten yang memiliki obligasi jatuh tempo dinilai masih memiliki margin keuntungan dari bisnisnya. Dengan begitu, perusahaan dapat mengendalikan cost of funds di tengah naiknya imbal hasil obligasi akibat tekanan suku bunga The Fed.

Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), pada Semester II/2022 terdapat 86 obligasi dari 55 emiten yang akan jatuh tempo dengan nilai total mencapai Rp54,75 triliun.

Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto menilai jumlah Rp54,75 triliun obligasi jatuh tempo tersebut rata-rata diisi oleh penerbit obligasi rutin.

Dengan begitu, para obligor ini terbiasa mendapatkan dana dari obligasi dan lumrah melakukan refinancing atau pembiayaan kembali utangnya.

"Perkiraan saya, lebih dari 70 persen mereka bakal refinancing. Di sisi lain tren suku bunga naik, The Fed naik, suku bunga market naik. Kemungkinan besar BI akan menyelaraskan suku bunga karena faktor eksternal," terangnya kepada Bisnis, Minggu (24/7/2022).

Tren naiknya suku bunga mau tidak mau akan turut mengerek biaya keuangan lantaran yield obligasi korporasi juga turut terkerek.

Namun, seiring pemulihan ekonomi dan industri yang bertumbuh, penerbitan obligasi cukup marak dibandingkan dengan dua tahun belakangan.

"Sekarang ekonomi tumbuh, geliat ekonomi mikro dan makro terlihat, mau ekspansi mereka butuh dukungan finansial. support pembiayaan modal kerja atau ekspansi bisa dari perbankan salah satunya obligasi," tuturnya.

Menurutnya, bagi emiten yang rutin menerbitkan obligasi bakal memilih penerbitan baru karena menjadi cara yang mudah. Biaya keuangan atau cost of fund bakal dinilai lebih murah walaupun yield mengikuti suku bunga yang cenderung naik.

"Cost of funds lebih murah walaupun ikuti suku bunga lebih mahal, selama punya marjin tidak masalah, karena dibandingkan dengan tahun lalu suku bunga berubah. Saat ini, ketika suku bunga tinggi juga mereka bisa mendorong kegiatan bisnis menghasilkan lebih besar, sehingga seharusnya tidak ada masalah," katanya.

Dia meyakini seiring tumbuhnya kegiatan ekonomi, dana hasil obligasi dapat menghasilkan nilai lebih dan menutupi biaya penerbitan obligasi yang meningkat.

Dengan demikian, ketika emiten tetap memiliki selisih keuntungan, margin dapat menutupi cost of funds yang tinggi.

"Hanya ke depan Indonesia kemungkinan akan menaikkan menyelaraskan dengan suku bunga global, karena suku bunga obligasi juga sudah naik," terangnya.

Mengutip data Pefindo, pada semester I/2022 penerbitan obligasi mencapai Rp72,7 triliun, melesat 68 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp43,3 triliun.

Adapun untuk mandat per 30 Juni 2022 dan belum listing mencapai Rp64,6 triliun dari 50 perusahaan yang didominasi sektor properti.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper