Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Usai Cuan Gede, Wall Street Mental Lagi ke Zona Merah

S&P 500 menghapus kenaikan sebelumnya di tengah proses penyesuaian kembali portofolio triwulanan oleh investor institusional.
Farid Firdaus
Farid Firdaus - Bisnis.com 27 Juni 2022  |  20:58 WIB
Usai Cuan Gede, Wall Street Mental Lagi ke Zona Merah
Pekerja berada di lantai Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (3/1/2021). Bloomberg - Michael Nagle
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat jatuh ke zona merah pada awal perdagangan Senin (27/6/2022) waktu setempat, setelah pekan lalu membukukan kinerja terbaik.

Berdasarkan data Bloomberg pada 20.35 WIB, indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 0,10 persen atau 32,15 poin ke 31.468,53, S&P 500 turun 0,21 persen atau 8,12 poin ke 3.903,62, dan Nasdaq ambles 0,43 persen atau 49,74 poin ke 11.557,88.

S&P 500 menghapus kenaikan di tengah proses penyesuaian kembali portofolio triwulanan oleh investor institusional, dengan para investor menilai apakah inflasi memuncak dan resesi dapat dihindari.

Harga obligasi pemerintah AS tergelincir, mendorong tingkat imbal hasil seri acuan 10 tahun AS menjadi 3,2 persen. Imbal hasil telah mundur dari tertinggi Juni 2022 di tengah kekhawatiran pertumbuhan. Adapun indeks dolar AS tampak berfluktuasi.

Ahli strategi investasi Morgan Stanley yang dipimpin oleh Michael Wilson mengatakan Indeks S&P 500 dapat naik lagi 5 persen menjadi 7 persen, sebelum melanjutkan kerugian.

Sementara itu investor mengurai data yang masuk untuk mengetahui apakah inflasi tertinggi dalam satu generasi hampir mencapai puncaknya. Pada waktunya, inflasi bisa memberi pembuat kebijakan kelonggaran untuk meredakan kenaikan suku bunga yang tajam.

Skenario yang lebih meresahkan adalah tekanan harga yang bertahan lama dan kebijakan yang lebih ketat bahkan ketika ekonomi global goyah.

“Ada perasaan bahwa segala sesuatunya tidak seburuk yang kita kira akan terjadi,” kata Carol Pepper, pendiri Pepper International. Dia menambahkan ada harapan bahwa mungkin pasar saham sudah oversold, dan kemungkinan tidak akan ada resesi.

Di tempat lain, Rusia gagal membayar utang negara dalam mata uang asing untuk pertama kalinya dalam satu abad, puncak dari sanksi Barat yang semakin keras dalam menutup akses pembayaran.

Para investor sedang memantau pertemuan puncak para pemimpin Kelompok Tujuh, yang membahas kelayakan batas harga minyak Rusia dan mengadopsi deklarasi yang berjanji untuk mendukung Ukraina.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy bergabung dengan KTT itu melalui tautan video dari Kyiv dan mengatakan dia ingin perang berakhir pada akhir tahun ini. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa as wall street dow jones nasdaq indeks S&P 500

Sumber : Bloomberg

Editor : Farid Firdaus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top