Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Investor Bersiap Hadapi Lonjakan Volatilitas, Wall Street Menguat

Indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,21 persen ke level 34.778, sedangkan indeks S&P 500 menguat 0,67 persen ke level 4.462,11 dan Nasdaq Composite naik 1,68 persen ke level 14.001.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 31 Januari 2022  |  22:35 WIB
Pelaku pasar sedang memantau perdagangan di bursa New York Stock Exchange (NYSE), New York, AS, Senin (20/9/2021). - Bloomberg
Pelaku pasar sedang memantau perdagangan di bursa New York Stock Exchange (NYSE), New York, AS, Senin (20/9/2021). - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat menguat pada awal perdagangan Senin (31/1/2022) karena investor bersiap menhadapi lonjakan volatilitas karena kekhawatiran seputar bank sentral dan pendapatan emiten.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,21 persen ke level 34.778, sedangkan indeks S&P 500 menguat 0,67 persen ke level 4.462,11 dan Nasdaq Composite naik 1,68 persen ke level 14.001.

Sektor finansial melemah dan menekan pergerakan indeks di Wall Street, namun sektor konsumen dan teknologi yang menguat menjadi penyeimbang pergerakan. Sementara itu, imbal hasil obligasi Treasury AS karena para pelaku pasar meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan memulai kenaikan suku bunga pada bulan Maret.

“Sampai pasar dan The Fed berhenti melompati satu sama lain dalam hal ekspektasi suku bunga, pasar akan tetap fluktuatif,” tulis analis Deutsche Bank Jim Reid, dilansir Bloomberg, Senin (31/1/2022).

Ketika investor berdamai dengan bank sentral yang lebih hawkish, bagian mahal dari pasar saham AS sedang menjalani valuasi ulang bersama dengan pasar obligasi.

Namun, pelaku pasar melihat peluang di segmen yang lebih murah seperti saham Eropa dan negara emerging amrket, serta mata uang berimbal hasil lebih tinggi di mana kenaikan suku bunga telah terjadi. MSCI World Index berada di jalur untuk bulan terburuk sejak Maret 2020.

Ada spekulasi mengenai apakah suku bunga acuan akan meningkat 25 atau 50 basis poin pada awal siklus pengetatan Fed. Namun,  kepala strategi analis Jonestrading Institutional Services Michael O'Rourke mengatakan itu tidak masalah.

“Perdebatan antara 25 dan 50 basis poin untuk bulan Maret sama dengan memutuskan antara menggunakan cangkir atau ember untuk mulai mengosongkan kolam renang. Satu lebih besar dari yang lain, tetapi perbedaannya dapat diabaikan,” katanya. Goldman Sachs sekarang memprediksi The Fed akan menaikkan suku bunga lima kali tahun ini.

Menambah volatilitas, sejumlah emiten mulai dari Alphabet Inc. hingga Exxon Mobil Corp. merilis laporan keuangan pekan ini di AS.

Sejauh ini, rentetan profitabilitas perusahaan yang luar biasa di AS terus berlanjut pada kuartal ini. Dari 172 perusahaan S&P 500 yang telah merilis laporan keuangan sejauh ini, 81 persen di antaranya melampaui ekspektasi.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa as wall street
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top