Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Banyak Sentimen Positif, Harga Minyak Malah Turun, Ini Penyebabnya!

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) turun 0,39 poin atau 0,45 persen ke US$86,57 per barel. Sementara itu, harga minyak Brent turun 0,36 poin atau 0,41 persen ke US$88,08 per barel.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 20 Januari 2022  |  19:29 WIB
Kilang minyak lepas pantai di Skotlandia - Bloomberg/Jason Alden
Kilang minyak lepas pantai di Skotlandia - Bloomberg/Jason Alden

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah global terpantau turun pada perdagangan Kamis (20/1/2022), padahal terdapat sentimen dari gangguan pasokan di Timur Tengah yang harusnya bisa mendorong harga.

Mengutip data Bloomberg, Kamis (20/1/2022), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) turun 0,39 poin atau 0,45 persen ke US$86,57 per barel. Sementara itu, harga minyak Brent turun 0,36 poin atau 0,41 persen ke US$88,08 per barel.

Analis Monex Investindo Futures (MIFX) Faisyal menjelaskan harga minyak berpeluang bergerak naik dalam jangka pendek di tengah outlook kuatnya permintaan bahan bakar dan terganggunya suplai dalam jangka pendek.

“Namun, kenaikan dapat terbatas seiring meningkatnya cadangan minyak di AS,” jelasnya dalam riset, dikutip Kamis (20/1/2022).

Kekhawatiran pasar terhadap suplai telah meningkat akhir-akhir ini, khususnya setelah kelompok Houthi Yaman menyerang Uni Emirat Arab, produsen minyak terbesar ketiga dalam kelompok OPEC.

Sementara itu, Rusia sebagai produsen minyak terbesar kedua di dunia, telah membangun kehadiran pasukan besar di dekat perbatasan Ukraina, memicu kekhawatiran terhadap invansi dan ketidakpastian suplai lainnya.

“Hal lain yang akan menopang kenaikan harga minyak adalah pemulihan permintaan bahan bakar secara luas pasca pandemi virus Corona,” imbuhnya.

Para pejabat dan analis OPEC juga mengatakan bahwa reli minyak dapat berlanjut dalam beberapa bulan kedepan, dan harga mungkin bisa mencapai US$100 per barel karena permintaan yang mengabaikan penyebaran virus Covid-19 varian Omicron.

Namun, kenaikan harga minyak dapat terbatas karena melonjaknya cadangan minyak mentah dan bensin di AS dalam laporan American Petroleum Institute (API). 

API melaporkan cadangan minyak mentah AS naik 1.4 juta barel untuk pekan yang berakhir 14 Januari. Sementara itu cadangan bensin naik 3.5 juta barel.

Selanjutnya, pasar akan mencari katalis dari cadangan minyak mentah yang dilaporkan oleh Energy Information Administration (EIA) pada pukul 23:00 WIB.

MIFX memprediksikan minyak berpeluang dijual selama bergerak di bawah level resistance US$86,30, karena berpeluang bergerak turun menguji level support terdekat di US$85,00. 

“Namun, jika bergerak naik hingga menembus ke atas level US$86,30, minyak berpeluang dibeli karena berpotensi naik lebih lanjut menargetkan resistance selanjutnya di US$87,00 per barel,” tambahnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

harga minyak mentah harga minyak brent harga minyak mentah wti
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top