Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Top 5 News Bisnisindonesia.id: Capex Jumbo Emiten hingga Pemulihan Sektor Properti

Sejumlah topik di Bisnisindonesia.id mulai dari belanja modal jumbo emiten hingga pemulihan sektor properti menjadi dua dari lima berita pilihan yang patut Anda baca lebih lengkap.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 17 Januari 2022  |  13:10 WIB
Karyawan berada di dekat layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (11/1/2022). Bisnis - Fanny Kusumawardhani
Karyawan berada di dekat layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (11/1/2022). Bisnis - Fanny Kusumawardhani

Bisnis, JAKARTA— Momen pemulihan ekonomi mendorong optimisme di pasar modal yang ditandai dengan belanja modal (capital expenditure/capex) lebih besar. Artikel tersebut merupakan satu dari lima artikel pilihan editor di Bisnisindonesia.id. Simak seluruh pilihan selengkapnya.

Prospek ekonomi yang lebih menjanjikan pada tahun ini menjadikan sejumlah emiten cukup optimistis untuk menaikkan anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) mereka untuk menunjang ekspansi.

Emiten properti keluarga BUMN PT PP Properti Tbk. (PPRO), misalnya, menaikkan capex mereka tahun ini sekitar 23 persen dibanding tahun lalu, atau dari sekitar Rp243 miliar menjadi Rp300 miliar.

Tahun ini, PPRO optimistis bahwa meskipun ada ancaman sebaran Omicron, perseroan masih bisa mencetak kinerja keuangan yang positif, terutama dengan adanya insentif yang diberikan oleh pemerintah sejak Maret 2021 seperti pajak pertambahan nilai yang ditanggung pemerintah (PPN DTP) yang diperpanjang hingga Juni 2022.

Emiten properti lainnya, PT Surya Semesta Internusa Tbk. (SSIA) menganggarkan belanja modal dengan nilai lebih dari Rp500 miliar untuk 2022. Nilai itu lebih tinggi dibandingkan anggaran capex pada 2021 yang senilai Rp450 miliar.

Sementara itu, emiten petrokimia PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) juga meningkatkan jumlah belanja modalnya menjadi US$250 juta tahun ini, dari US$175 juta tahun lalu.

Emiten mana saja ya yang menganggarkan capex jumbo pada tahun ini? Simak penjelasan lebih lengkapnya di bisnisindonesia.id. 

Sejumlah emiten bersiap mengeluarkan belanja modal jumbo pada tahun ini. (Bisnis/Eusebio Chrysnamurti)

Dua bank terbesar Indonesia, PT Bank Central Asia Tbk. dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. membidik peningkatan transaksi digital sebagai salah satu motor penggerak pertumbuhan bisnisnya tahun ini.

Sektor jasa keuangan Indonesia tengah mengalami transformasi yang cepat seiring dengan upaya untuk mendigitalkan dan mengikuti perubahan besar perilaku konsumen yang disebabkan Covid-19.

Menurut survei McKinsey Personal Finance Services 2021, sebanyak 78 persen konsumen Indonesia sekarang aktif menggunakan perbankan digital. Jumlah ini meningkat 57 persen dibandingkan dengan tahun 2017.

Sementara itu, sebanyak 55 persen responden mengatakan mereka makin jarang menggunakan uang tunai. Adapun 80 persen orang Indonesia yang disurvei akan mempertahankan atau meningkatkan penggunaan mobile banking dan online banking setelah pandemi Covid-19.

Sejak pandemi Covid-19, nilai transfer dana antarbank naik cukup pesat. Data Bank Indonesia (BI) sampai dengan November 2021 mencatat volume transfer antarbank mencapai 581,04 juta dengan nilai Rp1.994,71 triliun.

Menyikapi hal tersebut, beberapa bank besar di Indonesia mulai berfokus pada ekosistem transaksi digital guna mendukung bisnis perusahaan.

BCA mengungkapkan akan terus memperkuat ekosistem finansial, penyempurnaan dan modernisasi dari infrastruktur teknologi informasi yang dimiliki. Langkah tersebut ditempuh guna mendukung keandalan dan keamanan berbagai layanan perbankan transaksi digital.

Lalu, strategi apa saja yang disiapkan BCA dan Bank Mandiri? Simak laporan lengkapnya di bisnisindonesia.id.

Transaksi keuangan digital diproyeksi terus meningkat sehingga dua bank besar yakni BCA dan Bank Mandiri menyiapkan strategi pada tahun ini. (Istimewa)

Langkah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. untuk makin go smaller, go shorter, and go faster tahun ini tampaknya bakal makin mulus, seiring dengan alokasi kredit usaha rakyat (KUR) perseroan yang mencapai Rp260 triliun tahun ini.

Adapun, pada akhir 2021, emiten dengan kode saham BBRI ini berhasil menyalurkan KUR senilai Rp194,9 triliun kepada 6,5 juta debitur. Capaian ini setara dengan 99,65 persen dari total alokasi KUR yang diperoleh BRI dari pemerintah tahun lalu, yakni senilai Rp195,59 triliun.

Nilai alokasi KUR BRI tahun ini yang sebesar Rp260 triliun dengan demikian mencerminkan tingkat pertumbuhan sebesar 33,4 persen dibanding realisasi sepanjang 2021. Dengan alokasi KUR sebesar itu, BRI berpotensi untuk makin banyak menjangkau nasabah, khususnya pelaku usaha mikro.

Hal ini sejalan dengan komitmen BRI untuk menjadi lembaga keuangan yang terdepan dalam mendukung pemberdayaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Beberapa tahun terakhir, BRI pun telah memperkenalkan strateginya dengan go smaller, go shorter, and go faster.

Artinya, perseroan berupaya untuk menyasar segmen debitur yang lebih kecil, dengan perputaran pinjaman yang lebih cepat, dan proses yang lebih singkat serta efisien dengan penerapan teknologi digital.

Perseroan akan memanfaatkan alokasi KUR yang diperolehnya untuk membidik segmen mikro sebagai sektor utama yang menunjang pertumbuhan pinjaman perseroan tahun ini.

Adapun, pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian telah menetapkan kuota penyaluran KUR 2022 naik menjadi Rp373,17 triliun tahun ini dari Rp285 triliun pada 2021 lalu, dengan suku bunga tetap 6 persen.

Simak strategi lebih lengkap BRI untuk mendorong penyaluran KUR pada 2022 di bisnisindonesia.id.

BRI bakal menggenjot penyaluran KUR pada 2022 sejalan dengan kenaikan penyaluran KUR dalam dua tahun terakhir. (Bisnis)

Emiten perkebunan kelapa sawit mencatatkan kinerja yang positif pada tahun 2021 lalu seiring dengan tren harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) yang cukup tinggi.

Kenaikan harga CPO tersebut terutama berdampak positif untuk perusahaan-perusahaan yang memiliki produk minyak goreng, di antaranya PT Salim Ivomas Pratama Tbk. (SIMP), PT Tunas Baru Lampung Tbk. (TBLA), dan PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk. (SMAR).

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, hingga kuartal III/2021 produk minyak goreng dan lemak nabati masih menjadi kontributor terbesar penjualan SIMP. Tercatat, dari total penjualan Rp14,13 triliun, emiten produsen minyak goreng Bimoli ini mencatatkan penerimaan sebesar Rp11,66 triliun dari sektor ini.

Sementara itu, produk olahan sawit juga masih menjadi penyumbang penerimaan terbesar untuk TBLA. Hingga kuartal III/2021, produsen minyak goreng bermerek Rose Brand tersebut membukukan penjualan sebesar Rp2,61 triliun dari segmen produk pabrikasi dan turunannya dari pengolahan hasil perkebunan sawit untuk pihak berelasi

TBLA juga mencatatkan penjualan Rp5,59 triliun di segmen yang sama ke pihak ketiga. Jumlah tersebut mencakup 73,94 persen dari total penjualan perusahaan sebesar Rp11,09 triliun.

Di sisi lain, kenaikan harga CPO dan minyak goreng juga membuat pemerintah bergerak untuk menekan harga. Kementerian Perindustrian membuka peluang pelaku industri minyak goreng sawit berkontribusi dalam program stabilitas harga komoditas tersebut di pasaran.

Sejauh ini, sebanyak 70 produsen minyak go­reng sawit (MGS) ter­libat dalam menge­darkan 1,2 miliar liter minyak goreng untuk kebutuhan selama 6 bulan mendatang.

Simak saham-saham pilihan analis di tengah prospek moncer harga CPO.

Sejumlah emiten produsen CPO menikmati manfaat di tengah tingginya harga komoditas itu. Simak rekomendasi saham dari analis. (Antara)

5. Pengembang Perumahan Lanjutkan Kebangkitan pada 2022

Kalangan pengembang perumahan optimistis sektor properti bangkit pada 2022 yang didukung oleh regulasi maupun target pembangunan rumah. Target 230.000 unit rumah yang menjadi program pemerintah, dipastikan mudah dipenuhi mengingat berbagai regulasi telah disiapkan sejak 2021.

Banyak faktor yang membuat prospek sektor perumahan 2022 cerah. Salah satunya perbankan, yang kini lebih fleksibel dalam menyalurkan kredit pemilikan rumah (KPR) yang mengenakan uang muka mulai dari 10 persen.

KPR masih menjadi andalan masyarakat untuk mendapatkan rumah. Data menunjukkan sumber pembiayaan KPR mencapai 75,08 persen pada kuartal II/2021. Masih di periode yang sama pertumbuhan KPR secara tahunan mencapai 7,24 persen.

Beragam kebijakan pun menjadi stimulus bagi sektor riil ini. Sebut saja suku bunga acuan di level 3,5 persen (terendah sepanjang sejarah), uang muka KPR 0 persen, serta Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) atas properti siap huni yang diperpanjang hingga akhir Desember 2021 melalui Peraturan Menteri Keuangan No.103/PMK.010/2021.

Simak laporan lengkap tentang prospek di sektor properti pada 2022 di bisnisindonesia.id. 

Sektor properti diproyeksi terus menguat sejalan dengan momen pemulihan ekonomi yang sempat tertekan akibat pandemi Covid-19. (Antara)

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

properti emiten bmri bbri capex bbca minyak goreng harga cpo Covid-19
Editor : Duwi Setiya Ariyanti

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top