Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bukan Karena UU Cipta Kerja, IHSG Ambruk Imbas Sentimen Tapering The Fed

Sebanyak 476 saham merah, 99 saham hijau dan 98 saham stagnan. Investor asing membukukan aksi jual bersih di seluruh pasar Rp257,88 miliar. 
Annisa Kurniasari Saumi
Annisa Kurniasari Saumi - Bisnis.com 26 November 2021  |  15:15 WIB
Karyawan melintas di dekat layar penunjuk pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Rabu (12/6/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan
Karyawan melintas di dekat layar penunjuk pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Rabu (12/6/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk di akhir pekan ini, Jumat (26/11/2021). IHSG ditutup jatuh 137 poin atau 2,06 persen ke level 6.561,55.

Sebanyak 476 saham merah, 99 saham hijau dan 98 saham stagnan. Investor asing membukukan aksi jual bersih di seluruh pasar Rp257,88 miliar. 

Saham BBCA menjadi yang paling banyak dilego asing senilai Rp322,4 miliar yang membuat harganya ambles 2,02 persen. Menyusul saham BUKA yang dijual Rp108,8 miliar dan harganya anjlok 6,45 persen, serta saham BMRI diobral asing Rp81 miliar dengan harga yang turun 3,40 persen.  

Analis Pasar Modal Indonesia Fendi Susiyanto mengatakan, IHSG ambruk bukan karena keputusan Mahkamah Konstitusi yang menyatakan Undang-Undang Cipta Kerja inskonstitusional.

"Kenapa IHSG turun, itu lebih banyak karena outlook atau persiapan diri penerapan tapering off oleh The Federal Reserve. Itu membuat pasar bereaksi negatif," kata Fendi dihubungi Bisnis Jumat (26/11/2021).

Menurut Fendi, hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga terjadi di bursa regional, seperti di Indeks Hang Seng yang turun 2,6 persen, Indeks Nikkei turun 2,53 persen, dan Strait Times Index yang merosot 2,04 persen pukul 15.00 WIB.

"Rata-rata bursa regional turun 2 persenan. Jadi bukan karena faktor keputusan MK karena UU Cipta Kerja, tetapi, lebih banyak karena pasar menyikapi tapering up di akhir November," ucapnya.

Lebih lanjut, menurutnya keputusan MK yang menyatakan UU Cipta Kerja inkonstitusional tetap akan berpengaruh ke pasar, terutama dalam kepastian hukum. Pasalnya, keputusan tersebut akan membuat investor ragu dengan kepastian hukum di Indonesia.

"Selain itu, ada kekhawatiran dalam konteks akan ada demo susulan, yang membuat kekhawatiran bertambah ke investor. Ini kenapa ada dampaknya ke pasar," tutur dia.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG penggerak ihsg ihsg hari ini
Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top