Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Wall Street Berakhir Variatif, Sektor Teknolgi Lanjutkan Pelemahan

Mayoritas indeks di bursa saham Amerika Serikat menguat, sedangkan indeks Nasdaq ditutup melemah tertekan sektor teknologi.
Seorang pejalan kaki yang memakai masker lewat di depan gedung bursa saham New York Stock Exchange (NYSE), New York, AS, pada Kamis, (22/7/2021)./Bloomberg
Seorang pejalan kaki yang memakai masker lewat di depan gedung bursa saham New York Stock Exchange (NYSE), New York, AS, pada Kamis, (22/7/2021)./Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat ditutup variatif pada perdagangan Selasa (23/11/2021) di tengah penguatan sektor teknolgi dan pelemahan sektor teknologi.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 0,55 persen ke level 35.813,80, sedangkan indeks S&P 500 menguat 0,17 persen ke level 4.690,70. Di sisi lain, indeks Nasdaq Composite melemah 0,5 persen ke 15.775,14.

Saham energi dan keuangan memimpin kenaikan. Nasdaq 100 yang sarat saham-saham sektor teknologi berbalik melemah menjelang akhir perdagangan. Kurva yield Treasury meningkat dengan imbal hasil 10 tahun naik ke level tertinggi dalam satu bulan.

Pelaku pasar memangkas ekspektasi dovish untuk Federal Reserve setelah Jerome Powell dipilih untuk masa jabatan kedua. Powell sendiri berusaha untuk mencapai keseimbangan dalam pendekatan kebijakannya, mengatakan bank sentral akan menggunakan alat yang tersedia untuk mendukung ekonomi serta mencegah inflasi mengakar.

"Melihat pasar hari ini, jelas hal-hal yang sensitif terhadap suku bunga sedang bergerak,” ungkap Jerry Braakman, kepala investasi First American Trust di Santa Ana, seperti dikutip Bloomgerg, Selasa (23/11/2021).

“Sektor teknologi melemah, keuangan menunjukkan kekuatan. Itu mencerminkan pergerakan dalam kurva imbal hasil,” lanjutnya.

Terlepas dari penurunan baru-baru ini, bursa AS telah diperdagangkan mendekati rekor tertinggi, sehingga menimbulkan kekhawatiran mengenai karena investor mempertimbangkan prospek pertumbuhan di tengah meningkatnya inflasi dan pandemi yang terus-menerus.

"Pasar masih overbought dan perlu mencerna beberapa kenaikan baru-baru ini," ujar Sam Stovall, kepala strategi investasi di CFRA Research.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper