Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Tantangan yang Dihadapi Mitratel (MTEL) untuk Kuasai Bisnis Menara

Mitratel menghadapi tantangan yang berat dalam persaingan bisnis menara. Pasalnya perseroan berencana melakukan ekspansi ke luar Pulau Jawa.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 23 November 2021  |  13:09 WIB
Seremoni pencatatan saham perdana PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) atau Mitratel di Bursa Efek Indonesia, Senin (22/11/2021). - Istimewa
Seremoni pencatatan saham perdana PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) atau Mitratel di Bursa Efek Indonesia, Senin (22/11/2021). - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) atau Mitratel menghadapi tantangan berat untuk menguasai persaingan bisnis menara.

Analis Henan Putihrai Steven Gunawan mengatakan anak usaha BUMN itu menghadapi tantangan yang berat dalam persaingan bisnis menara. Pasalnya perseroan berencana melakukan ekspansi ke luar Pulau Jawa.

Hal itu akan dilakukan untuk meningkatkan tenancy ratio perseroan. Sebagai informasi, Mitratel memiliki 28.030 menara yang tersebar di Pulau Jawa sebanyak 11.963 menara atau 43 persen dari portofolio dengan tenancy ratio 1,64x. Sementara itu, sebanyak 16.067 menara atau 57 persen berada di luar Pulau Jawa dengan tenancy ratio 1,39x.

“Tentang tenancy ratio masih perlu dicermati lebih lanjut ya, alias butuh pembuktian, sebab salah satunya dia disebutkan berfokus ekspansi ke luar Jawa,” katanya kepada Bisnis dikutip Selasa (23/11/2021).

Pasalnya, Steven menilai game utama dari bisnis menara berada di Pulau Jawa karena menjadi pusat pertumbuhan trafik data terbesar di seluruh Indonesia. Sementara, porsi kue terbesar kini telah dikuasai oleh dua kompetitor lain yaitu TOWR dan TBIG.

Menurutnya, untuk bisa mendominasi Pulau Jawa akan menjadi salah satu faktor yang menantang bagi Mitratel. Adapun saat ini perseroan tengah mengantongi dana segar hingga Rp18,8 triliun yang sebagian dilakokasikan untuk mengakuisisi menara.

Steven menilai biaya untuk akusisi tidak akan terlalu tinggi karena perseroan sudah mengalokasikannya.

Senada dengan Steven, Analis Shinhan Sekuritas Indonesia Anissa Septiwijaya mengatakan dana yang dikeluarkan oleh perseroan kemungkinan lebih rendah daripada membangun secara organik.

“Secara cost memang akuisisi menara lebih rendah dibandingkan jika harus ekspansi organic,” katanya kepada Bisnis dikutip pada Selasa (23/11/2021).

Adapun Mitratel telah mengantongi dana segar hasil penggalangan dana sebesar Rp18,8 triliun. Perseroan berencana akan menggunakan 40 persen dana hasil IPO untuk belanja modal organik, 50 persen untuk anorganik, dan 10 persen untuk modal kerja serta kebutuhan perseroan lainnya.

Dengan demikian, Mitratel berencana mengalokasikan dana mencapai Rp9,4 triliun untuk melakukan akuisisi menara. “Adapun jika akuisisi menara di mulai itu juga dampak nya bagus untuk MTEL , karena bisa mendapat tambahan revenue dari penyewa,” imbuhnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

mitratel emiten menara
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top