Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PREMIUM NOTES: Emiten Teknologi Loyo, Sikap AALI dkk, & PGAS Bernapas Lega

Kinerja indeks saham teknologi tampak lesu sejak Agustus 2021. Minimnya katalis positif menjadi penyebab.
Herdanang Ahmad Fauzan
Herdanang Ahmad Fauzan - Bisnis.com 23 September 2021  |  09:57 WIB
Perusahaan data center, PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) meresmikan gedung data center keempat (JK5) di area data center campus yang berlokasi di Cibitung, Kamis (27/5 - 2021).
Perusahaan data center, PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) meresmikan gedung data center keempat (JK5) di area data center campus yang berlokasi di Cibitung, Kamis (27/5 - 2021).

Bisnis.com, JAKARTA - Kinerja indeks saham teknologi tampak lesu sejak Agustus 2021. Minimnya katalis positif menjadi penyebab.

Berdasarkan data Bloomberg, saham-saham teknologi di Bursa Efek Indonesia (BEI) alias IDX Techno terkoreksi 9,2 persen hingga Rabu (22/9/2021). Sepanjang periode ini, IDX Techno bergerak di level 10.784 dengan posisi tertinggi sebesar 11.997.

Padahal, pada kuartal II/2021, indeks ini mampu terbang tinggi hingga 261,46 persen setelah bergerak di rentang 1.132-10.864. Pencapaian tersebut terbilang luar biasa lantaran IDX Techno merupakan penghuni baru di BEI.

1. Saham-saham Emiten Teknologi Haus Katalis Positif, Masih Menarik Dikoleksi?

Pelemahan di indeks anyar ini bahkan berpengaruh terhadap daya dorong kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pasalnya, saham-saham yang sempat menjadi pengerek pertumbuhan kini justru berbalik menjadi penekan.

Misalnya, PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) yang terkoreksi 17,85 persen atau PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK) yang turun 22,6 persen dalam periode Juli-22 September 2021. Kedua emiten ini memiliki bobot kontribusi sebesar 35 persen terhadap pergerakan IHSG.

Lantas, masih menarikkah saham emiten teknologi untuk dikoleksi pada sisa tahun ini? 

Ulasannya dapat Anda baca di sini.

data center

Ilustrasi data center/Flickr

2. Menilik Strategi AALI, ANJT, SSMS & MGRO Pacu Produktivitas

Seiring adanya moratorium perizinan pembukaan lahan baru, emiten-emiten perkebunan kelapa sawit menjadikan peremajaan atau replanting sebagai strategi alternatif untuk tetap menggenjot produktivitas, utamanya pada lahan eksisting.

Perusahaan sawit milik Grup Astra, PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) mengaku telah menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp1,2 triliun pada tahun ini. Belanja modal tersebut akan dialokasikan untuk replanting dan perawatan tanaman yang belum menghasilkan.

Di sisi lain, PT Austindo Nusantara Jaya Tbk. (ANJT) mengalokasikan belanja modal sebesar US$42,8 juta pada 2021. Jumlah tersebut setara Rp599,2 miliar dengan asumsi nilai tukar Rp14.000 per dolar AS.

Emiten lainnya, Sekretaris Perusahaan PT Sawit Sumbermas Sarana Swasti Tbk. (SSMS) mengatakan perusahaan belum merencanakan untuk program replanting, mengingat pohon yang dimiliki masih produktif.

Pembahasan selanjutnya dapat Anda baca di sini.

 sawit

Pekerja memuat tandan buah segar (TBS) kelapa sawit, di Petajen, Batanghari, Jambi, Jumat (11/12/2020)./ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan

3. Napas Lega dan Katalis Positif untuk PGN (PGAS) dari Kasus Sengketa Pajak

PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGN) kini mulai bisa bernapas lega. Emiten pelat merah itu akhirnya memenangkan perkara peninjauan kembali (PK) sengketa pajak pertambahan nilai (PPN) penjualan gas bumi ke konsumen dengan Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak senilai US$16 juta atau sekitar Rp228,8 miliar.

Kemenangan PK untuk emiten berkode saham PGAS ini merupakan yang keempat kalinya, setelah pada Mei 2021 PGN juga telah memenangkan PK atas tiga perkara sengketa PPN penjualan gas bumi ke konsumen senilai Rp 698 miliar. Dari tiga perkara pajak tersebut, 2 di antaranya sengketa pajak tahun pajak 2012 dan 1 sengketa pajak untuk tahun pajak 2013.

Sengketa pajak yang yang telah diputuskan oleh MA di ini merupakan bagian dari 24 perkara sengketa pajak PPN yang melibatkan PGN dan Direktorat Jenderal Pajak, Kementerian Keuangan.

Lantas, bagaimana prospek bisnis perseroan di tengah kemenangan dalam sejumlah sengketa tersebut?

Pembahasannya dapat Anda baca di sini.

PGN

Penguasaan aspek teknologi 4.0 menjadi salah satu fondasi utama PGN untuk mencapai keberhasilan pemanfaatan gas bumi di seluruh sektor. /PGN 

4. Saham-saham Pilihan Perusahaan Asuransi Menatap Window Dressing

Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat total penempatan dana investasi industri asuransi jiwa per semester I/2021 telah mencapai Rp510,5 triliun. Penempatan dana jumbo tersebut sebenarnya ditujukan untuk peningkatan dana pengelolaan jangka panjang.

Akan tetapi, dampaknya ke kinerja masing-masing saham pun cukup terasa.

Dana jumbo dari perusahaan asuransi membuat harga emiten sektor tersebut mulai mendaki. Naamun, masih terdapat beberapa saham yang akhirnya berada di zona gocap alias Rp 50 per lembar saham.

Pembahasan selanjutnya dapat Anda baca di sini.

asurasni

Layar menampilkan Wakil Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia Fahmi Achmad (kiri atas dilayar), Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia Suwandi Wiratno (kanan atas dilayar), Ketua Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia Budi Tampubolon (kiri bawah dilayar), dan Research Director CORE Piter Abdullah saat acara Bisnis Indonesia Economic Outlook secara virtual di Jakarta, Selasa (6/7/202021). Bisnis/Abdurachman
Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Indeks BEI teknologi astra PGN minyak sawit DCI Indonesia
Editor : M. Nurhadi Pratomo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top