Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PREMIUM NOTES : Menanti Tuah Relaksasi Mal dan Aturan Bank Digital ke Pasar Modal

Kebijakan pembukaan mal dengan syarat khusus bagi pengunjung berpotensi menjadi pendorong perbaikan kinerja emiten perital yang memiliki gerai di dalam pusat perbelanjaan.
Herdanang Ahmad Fauzan
Herdanang Ahmad Fauzan - Bisnis.com 20 Agustus 2021  |  07:39 WIB
Suasana salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, Jumat (2/7/2021). - ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga
Suasana salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, Jumat (2/7/2021). - ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

Bisnis.com, JAKARTA — Kendati PPKM Darurat lagi-lagi diperpanjang, sektor pusat perbelanjaan alias mal dapat sedikit bernapas lega lantaran pemerintah memberi izin pembukaan kembali sektor ini.

Harapan akan perbaikan kinerja pun muncul. Kebijakan tersebut turut menjadi peluang bagi emiten-emiten peritel modern yang mengoperasikan sebagian atau seluruh gerainya di dalam mal untuk bangkit.

Sejauh ini, dari deretan emiten mal yang telah merilis laporan keuangan semesteran di bursa, sebagian besar memang masih membukukan penurunan kinerja.

1. Menilik Daya Ungkit Pembukaan Mal Terhadap Kinerja Emiten Peritel

Tak berhenti di situ, minat investor mentransaksikan saham-saham ritel modern juga tampak lesu, yang pada ujungnya membuat kapitalisasi perusahaan turun.

Pembahasan selanjutnya dapat Anda baca di sini.

bank neo commerce 

Karyawati beraktivitas di sekitar logo Bank Neo Commerce di Jakarta, Kamis (19/4/2021)./Bisnis-Arief Hermawan P

2. Aturan Bank Digital Akhirnya Terbit, Kapan Saham Bank Mini Rebound?

Penantian panjang terhadap regulasi resmi soal bank digital di Indonesia akhirnya mulai terjawab. Kamis (19/8/2021) kemarin, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menelurkan sejumlah pasal menyangkut operasional bank digital yang termuat dalam Peraturan OJK (POJK) baru tentang bank umum.

Total ada tiga POJK baru yakni POJK No.12/POJK.03/2021 tentang Bank Umum, POJK No.13/POJK.03/2021 tentang Penyelenggaraan Produk Bank Umum, dan POJK No.14/POJK.03/2021 tentang Perubahan POJK No.34/POJK.03/2018 tentang Penilaian Kembali Pihak Utama Lembaga Jasa Keuangan.

Secara garis besar, ada enam syarat utama yang diterapkan OJK agar bank digital baru maupun konversi dapat beroperasi.

Apa saja prasyarat tersebut, dan akankah beleid baru ini berdampak terhadap pergerakan saham-saham bank mini yang sudah konsisten terbang sejak awal tahun?

Pembahasannya dapat Anda baca di sini.

adhi karya 

Pekerja beraktivitas di proyek yang dikerjakan PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI)./JIBI-Nurul Hidayat

3. Saham BUMN Karya Turun Bukit Lagi, Buntut Pidato RAPBN 2022?

Sudah 2 hari beruntun harga saham emiten-emiten BUMN konstruksi melanjutkan tren penurunan. Situasi ini terjadi bersamaan dengan pengumuman besar RAPBN 2022 dalam pidato nota keuangan Presiden Jokowi, Senin (16/8).

Dalam pidato tersebut, Jokowi memang tak banyak bicara soal rencana proyek-proyek besar. Termasuk, kelanjutan pemindahan ibu kota negara (IKN).

Dalam keterangan terpisah, Kementerian PUPR dan Kementerian Keuangan pun membenarkan bahwa IKN belum masuk dalam proyeksi anggaran belanja pemerintah tahun depan.

Secara keseluruhan, anggaran untuk pembangunan infrastruktur juga dikurangi. Pengurangan ini seolah mengamini proyeksi sejumlah pakar yang menilai bahwa tahun depan perolehan kontrak BUMN karya berisiko besar untuk pulih.

Ulasan selengkapnya dabat Anda baca di artikel ini.

tabung oksigen 

Pekerja menata tabung oksigen medis di salah satu agen isi ulang oksigen, Bandung, Jawa Barat, Kamis (24/6/2021)./ANTARA FOTO-Novrian Arbi

4. Pabrik Oksigen Surya Biru (SBMA) Borong Aset dengan Uang IPO

Rencana IPO PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk. (SBMA) pada awal September mendatang tampak kian konkret. Terakhir, perusahaan telah memberikan penjelasan lebih detail soal ke mana dana IPO akan digunakan.

Pengembangan pabrik serta peningkatan modal kerja dan overhead menjadi prioritas perusahaan untuk didanai perusahaan pabrik tabung gas tersebut.

Menariknya, tidak seperti kebanyakan perusahaan lain yang kerap menjadikan pertumbuhan kinerja di tahun IPO sebagai daya tarik, SBMA justru tengah mengalami penurunan profitabilitas hingga Mei tahun ini.

Pembahasan selanjutnya dapat Anda baca di sini.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ipo emiten ritel emiten bumn Bank Digital
Editor : Annisa Margrit

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top