Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Investor Nantikan Data Inflasi AS, Wall Street Ditutup di Kisaran Level Tertinggi

Indeks S&P 500 ditutup menguat 0,02 persen ke level 4.227,26, kurang dari 6 poin di bawah rekor penutupan 7 Mei setelah berfluktuasi sepanjang sesi perdagangan.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 09 Juni 2021  |  06:10 WIB
Wall Street. - Bloomberg
Wall Street. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat ditutup variatif di kisaran rekor tertinggi pada Selasa (8/6/2021) karena investor terus memperdebatkan dampak inflasi pada kebijakan moneter.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks S&P 500 ditutup menguat 0,02 persen ke level 4.227,26, kurang dari 6 poin di bawah rekor penutupan 7 Mei setelah berfluktuasi sepanjang sesi perdagangan.

Sementar itu, indeks Nasdaq Composite menguat 0,31 persen ke 13.924,91. Namun, indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 0,09 persen ke 34.599,82.

Imbal hasil obligasi Treasury AS 10-tahun turun ke level terendah dalam sebulan, dengan fokus beralih ke data indeks harga konsumen AS yang dirilis pada Kamis. Investor menantikan petunjuk tentang seberapa jauh Federal Reserve dapat menunda pengurangan stimulus.

Saham teknologi berkapitalisasi besar termasuk Amazon.com Inc., Apple Inc. dan Alphabet Inc. membantu menopang indeks. Di sisi lain, saham-saham bioteknologi menjadi penekan utama indeks, meskipun pada perdagangan sebelumnya menguat setelah Biogen Inc. menerima persetujuan peraturan untuk obat penyakit Alzheimernya.

Bursa AS telah diperdagangkan dalam kisaran yang relatif ketat di sekitar rekor tertinggi dalam beberapa pekan terakhir karena investor mencoba untuk menyeimbangkan pemulihan ekonomi dan Fed yang dovish terhadap kekhawatiran inflasi, tingginya valuasi, dan perbedaan dalam peluncuran vaksin Covid global.

Volatilitas di pasar saham kembali meningkat menjelang laporan data indeks harga konsumern (IHK) AS dan keputusan suku bunga The Fed Rabu depan.

Penasihat keuangan senior Walsh & Nicholson Financial Group Brian Walsh Jr mengatakan secara keseluruhan valuasi terlihat terus meningkat dan semuanya terasa lebih mahal.

 “Ini adalah sesuatu yang kami amati, tetapi The Fed terus mengatakan bahwa mereka akan mempertahankan suku bunga terlepas dari data inflasi yang masuk. Anda hanya dapat menerima kata-kata mereka dan saya pikir itulah yang dilakukan investor.” Ungkap Walsh Jr, seperti dikutip Bloomberg, Rabu (9/6/2021).

Ekuitas global juga mendekati rekor tertinggi, dan imbal hasil Treasury telah menurun selama tiga minggu berturut-turut. Hal tersebut menunjukkan jaminan bahwa The Fed menenangkan kekhawatiran pengetatan untuk saat ini.

Namun pada hari Selasa, para pelaku pasar berhati-hati sebelum data inflasi, sehingga mendorong dolar AS menuju kenaikan pertama dalam tiga hari.

Analis pasar keuangan senior City Index Fiona Cincotta mengatakan mentang perdagangan yang ketat terlihat sejauh ini bulan ini mencerminkan suasana hati-hati di pasar menjelang data inflasi.

“Meskipun The Fed meyakinkan bahwa lonjakan inflasi ini bersifat sementara, pembuat kebijakan perlu berbondong-bondong untuk menenangkan pasar. Menunda tindakan atau bahkan tidak bertindak dapat menyebabkan gangguan ekonomi yang ditakuti pasar,” lanjutnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa as wall street
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top