Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Saham Teknologi Merosot, Wall Street Tergelincir dari Rekor Tertinggi

Indeks Dow Jones Industrial Average melemah 0,45 persen ke level 33.903,79, sedangkan indeks S&P 500 melemah 0,41 persen ke level 4.194,05 dan Nasdaq Composite terkoreksi tipis 0,02 persen ke 14.079,51.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 30 April 2021  |  21:45 WIB
Lambang Nasdaq Market Site di Times Square, New York -  Bloomberg / Demetrius Freeman
Lambang Nasdaq Market Site di Times Square, New York - Bloomberg / Demetrius Freeman

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat melemah dari level tertinggi sepanjang masa pada awal perdagangan Jumat (30/4/2021) di tengah pelemahan sejumlah emiten teknologi terbesar dan data ekonomi yang menunjukkan potensi tekanan inflasi.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Dow Jones Industrial Average melemah 0,45 persen ke level 33.903,79, sedangkan indeks S&P 500 melemah 0,41 persen ke level 4.194,05 dan Nasdaq Composite terkoreksi tipis 0,02 persen ke 14.079,51.

Saham Twitter Inc. tenggelam setelah perusahaan media sosial itu membukukan kinerja bisnis periklanan di bawah ekspektasi pada kuartal I/2021. Saham teknologi jumbo lain seperti Apple Inc. dan Alphabet Inc. juga melemah.

Di sisi lain, saham Amazon.com Inc. menguat menyusul lonjakan penjualan. Meskipun memenuhi ekspektasi laba Wall Street, Chevron Corp. tergelincir setelah mengecewakan investor yang mengantisipasi rencana buyback.

Data hari Jumat menunjukkan pendapatan pribadi AS melonjak pada bulan Maret ke level tertinggi sejak tahun 1946, didukung oleh pemberian stimulus bantuan pandemi putaran ketiga.

Sementara itu, ukuran utama harga konsumen, yang dikenal sebagai indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi, naik 2,3 persen pada Maret dari tahun sebelumnya.  kenaikan terbesar sejak 2018. Sementara itu, indeks sentimen konsumen terus menguat pada akhir April.

Indeks S&P 500 siap untuk mengakhiri empat bulan pertama tahun 2021 dengan reli lebih dari 10 persen. karena hal tersebut, istilah “sell in May and go away” terlintas di benak banyak investor.

Namun, tim analis JPMorgan Chase & Co mendesak pelaku pasar untuk bersiap kebangkitan perdagangan reflasi karena ekspektasi pembukaan kembali ekonomi meningkat dalam beberapa bulan mendatang.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa as wall street
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top