Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pasar Pantau Rilis Cadev Indonesia, Rupiah Berpotensi Lanjutkan Penguatan Besok

FX Senior Dealer Bank Sinarmas Deddy mengatakan, minimnya rilis data dalam negeri serta pergerakan mata uang regional yang cenderung sideways membuat rupiah bergerak stabil pada hari ini di kisaran Rp14.500 - Rp14.530. 
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 06 April 2021  |  20:25 WIB
Pegawai menunjukan uang dolar dan rupiah di Jakarta, Senin (15/2/2021). Bisnis - Himawan L Nugraha
Pegawai menunjukan uang dolar dan rupiah di Jakarta, Senin (15/2/2021). Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA - Rilis data cadangan devisa (cadev) Indonesia pada Rabu (7/4/2021) besok berpotensi menjadi katalis positif untuk kelanjutan penguatan nilai tukar rupiah.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 10 poin atau 0,07 persen ke level Rp14.505 per dolar AS pada Selasa (6/4/2021). Sementara itu, indeks dolar AS terpantau menguat 0,019 poin atau 0,02 persen ke level 92,614.

FX Senior Dealer Bank Sinarmas Deddy mengatakan, minimnya rilis data dalam negeri serta pergerakan mata uang regional yang cenderung sideways membuat rupiah bergerak stabil pada hari ini di kisaran Rp14.500 - Rp14.530. 

Meski demikian, Deddy mengatakan rupiah masih berpotensi untuk menguat pada perdagangan besok. Hal ini sejalan dengan pergerakan mata uang global yang menunjukkan tanda pemulihan walaupun masih cukup terbatas.

"Pasar juga masih menanti data trade balance Indonesia yang akan dirilis Kamis pekan ini," katanya saat dihubungi pada Selasa (6/4/2021).

Untuk perdagangan besok, Deddy mengatakan pasar akan memantau akan rilis data cadev Indonesia. Dengan prediksi kenaikan cadev dibandingkan bulan sebelumnya, hal ini akan menambah sentimen positif bagi pergerakan rupiah.

"Rupiah kemungkinan dapat menuju kisaran Rp14.475 hingga Rp14.525," pungkasnya.

Sebelumnya, Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam laporannya menyebutkan penguatan nilai tukar rupiah terjadi menyusul sinyal pertumbuhan ekonomi AS yang kuat dan proses vaksinasi yang terus berjalan.

Investor juga fokus pada rencana stimulus infrastruktur yang diusulkan oleh Presiden AS Joe Biden, yang akan melibatkan peningkatan pajak perusahaan untuk membayar pengeluaran baru. Joe Biden akan bersedia untuk mendorong rencana infrastruktur senilai US$2 triliun tanpa dukungan dari anggota parlemen Republik jika dia tidak dapat mencapai kesepakatan bipartisan.

Di Eropa, Jerman mengumumkan target vaksinasi sebesar 20 persen dari populasinya pada awal Mei, yang menempatkan negara terbesar Uni Eropa tersebut jauh di belakang AS dalam hal persentase. Selain itu, Uni Eropa masih menghadapi resesi karena penguncian terkait dengan gelombang ketiga virus Covid-19.

Sementara itu, pada Senin kemarin, Inggris mengumumkan rencana untuk membuka kembali sejumlah tempat publik seperti penata rambut, pusat kebugaran dan pub mulai minggu depan. Inggris juga melakukan revisi pertumbuhan PDB kuartal keempat 2020 akhir pekan lalu, menjadi 1,3 persen secara kuartalan dari sebelumnya 1,0 persen.

Sementara itu, dari dalam negeri, sinyal pemulihan ekonomi Indonesia juga mulai terlihat. Indonesia telah memulai vaksinasi bersamaan dengan perpanjanganPemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kurs dolar as Rupiah
Editor : Ropesta Sitorus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top