Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Saham Emiten Rumah Sakit Mulai Mahal, Tapi Fundamental Tetap Prospektif

Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta Utama menjelaskan penguatan saham-saham emiten rumah sakit mulai terbatas karena sebagian sudah bervaluasi tinggi. Namun, perkembangan positif vaksinasi dapat menjadi katalis bagi bisnis kesehatan.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 06 April 2021  |  18:37 WIB
RS Siloam Semanggi - siloamhospitals
RS Siloam Semanggi - siloamhospitals

Bisnis.com, JAKARTA - Analis belum merekomendasikan lagi saham emiten rumah sakit karena beberapa di antaranya sudah memiliki valuasi mahal.

Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta Utama menjelaskan penguatan saham-saham emiten rumah sakit mulai terbatas karena sebagian sudah bervaluasi tinggi.

“Saya masih belum rekomendasi untuk HEAL dan SILO. Apalagi HEAL sudah berhasil mencapai target harga,” kata Nafan kepada Bisnis, Selasa (6/4/2021).

Adapun, saham PT Medikaloka Hermina Tbk. (HEAL) terpantau naik 1,32 persen pada akhir perdagangan Selasa (6/4/2021). Sejak awal tahun, harga melesat 30,31 persen.

Sementara itu, saham PT Siloam International Hospitals Tbk. (SILO) juga menguat 0,93 persen menjadi Rp5.450. Sejak awal tahun, harga SILO terkoreksi 0,91 persen.

Saham PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk. (SAME) bahkan naik lebih tinggi lagi 4,67 persen menjadi Rp448 dan sejak awal tahun menanjak 53,42 persen.

Kendati pergerakan saham emiten rumah sakit mulai terbatas, Nafan melihat perkembangan positif vaksinasi yang berhasil menurunkan tingkat kasus Covid-19 pada Maret 2021 dapat menjadi katalis bagi bisnis kesehatan.

“Dinamika sektor kesehatan masih tetap prospektif kedepannya seiring dengan adanya prospek pemulihan ekonomi,” imbuh Nafan.

Adapun, tes polymerase chain reaction (PCR) di Jakarta tercatat turun 8,46 persen secara bulanan menjadi 346.000 kali pada Maret 2021. Sejak awal tahun, tes PCR di Jakarta tercatat mencapai 1,3 juta kali.

Frekuensi tes PCR secara mingguan di ibukota Indonesia juga turun menjadi 86.000 kali seminggu pada bulan lalu dibandingkan Februari sebanyak 95.000 kali seminggu.

Sementara itu, kasus positif Covid-19 di Jakarta pada Maret tercatat 42.000 kasus atau lebih rendah dibandingkan Februari yang 68.000 kasus.

“Dengan kasus positif yang lebih rendah, tingkat kasus positif secara year-to-date di Jakarta turun dari 16,5 persen pada Februari menjadi 15,3 persen pada Maret,” tulis Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Joshua Michael dalam riset terbaru, Selasa (6/4/2021).

Joshua menilai perkembangan yang menggembirakan itu ditopang oleh distribusi vaksin yang dilakukan pemerintah sejak awal tahun. Adapun, beberapa vaksin yang sudah masuk ke Indonesia antara lain Sinovac buatan China, Novavax buatan Amerika Serikat, dan AstraZeneca dari Inggris.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

emiten rumah sakit rekomendasi saham Vaksin Covid-19
Editor : Ropesta Sitorus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top