Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Analis: Potensi Pertumbuhan Kinerja HMSP Tahun Ini Masih Terbatas

Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada mengatakan bahwa potensi pertumbuhan kinerja emiten berkode efek HMSP tahun ini masih akan terbatas seiring dengan masih terdapat sejumlah katalis negatif di industri rokok saat ini.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 23 Maret 2021  |  21:58 WIB
Kantor HM Sampoerna.  - HM Sampoerna
Kantor HM Sampoerna. - HM Sampoerna

Bisnis.com, JAKARTA - Kinerja emiten produsen rokok, PT HM Sampoerna Tbk., diproyeksi masih dalam tekanan tahun ini, melanjutkan tren pelemahannya tahun lalu.

Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada mengatakan bahwa potensi pertumbuhan kinerja emiten berkode efek HMSP tahun ini masih akan terbatas seiring dengan masih terdapat sejumlah katalis negatif di industri rokok saat ini.

“Potensi pertumbuhan HMSP terbatas. Kecenderungan orang untuk lebih memilih konsumsi produk-produk kesehatan di tengah pandemi Covid-19 tampaknya masih akan berlanjut tahun ini,” ujar Reza ketika dihubungi Bisnis, Selasa (23/3/2021).

Untuk diketahui, HMSP mencetak pendapatan sebesar Rp92,42 triliun pada 2020. Perolehan itu lebih rendah 12,85 persen dibandingkan dengan perolehan 2019 sebesar Rp106,05 triliun.

Selain itu, HMSP hanya mengantongi laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp8,58 triliun, menyusut 37,46 persen dibandingkan dengan perolehan 2019 sebesar Rp13,72 triliun.

Dia menjelaskan, penurunan kinerja HMSP pada 2020 berada di luar ekspektasi analis. Pasalnya, pihaknya tidak menyangka penurunan konsumsi tembakau tahun lalu cukup signifikan karena konsumsi rokok diyakini tidak akan begitu terpengaruh pembatasan mobilitas akibat Covid-19 yang menekan sektor konsumsi lainnya.

Namun, tampaknya terjadi kecenderungan peralihan prioritas belanja dari masyarakat untuk melaksanakan pola hidup yang lebih sehat. Kecenderungan itu pun diyakini masih akan bertahan pada tahun ini mengingat pandemi Covid-19 belum sepenuhnya usai kendati vaksinasi sudah mulai berjalan.

Di sisi lain, kenaikan tarif cukai untuk rokok diyakini tidak begitu mempengaruhi performa penjualan rokok perseroan karena akan dibatasi oleh konsumen setia merek rokok perseroan yang tetap melakukan pembelian meskipun harga jual rokok menjadi cenderung lebih mahal.

Dia menjelaskan bahwa HMSP harus mulai memikirkan sejumlah strategi ekspansi inovasi produk hingga diversifikasi usaha di luar bisnis rokok untuk dapat menyeimbangkan prospek penurunan konsumsi tembakau.

Oleh karena itu, dia menilai HMSP belum menarik untuk diakumulasi oleh investor seiring dengan prospek fundamental kinerja yang belum akan membaik sehingga menekan pergerakan saham.

Namun, secara jangka panjang prospek HMSP akan sangat bergantung kepada strategi yang disiapkan perseroan untuk menghalangi potensi pelemahan dengan rencana ekspansi atau diversifikasi usaha lain yang dapat mengerek performa keuangan.

Di lantai bursa, pada perdagangan Selasa (23/3/2021) HMSP ditutup terkoreksi 3,39 persen ke posisi Rp1.425. Sepanjang tahun berjalan 2021, saham terkoreksi 5,32 persen. Kapitalisasi pasar HMSP sebesar Rp165,75 triliun.

Berdasarkan konsensus Bloomberg, sebanyak 19 dari 33 analis yang mengulas HMSP merekomendasikan jual. Sementara itu, 7 analis merekomendasikan beli dan 7 analis lainnya merekomendasikan hold.

Target harga HMSP dalam 12 bulan ke depan berada di posisi Rp1.296, yang mencerminkan potensi koreksi 9 persen dari level harga HMSP saat ini.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri rokok hm sampoerna emiten rokok
Editor : Ropesta Sitorus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top