Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tanpa January Effect, Begini Kinerja Indeks Bisnis-27 Sepanjang Januari 2021

Sejumlah katalis positif maupun negatif yang terjadi sepanjang Januari 2021 menyebabkan IHSG dan indeks-indeks lainnya di Indonesia termasuk Indeks Bisnis-27 bergerak variatif.
Edo Ardiansyah & Dyah Ayu Kartika
Edo Ardiansyah & Dyah Ayu Kartika - Bisnis.com 02 Februari 2021  |  07:33 WIB
Papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (1/2/2021). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (1/2/2021). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKART - Indeks Bisnis-27 pada Jumat (29/1/2021) terpantau bertengger di level 500,32 atau terdiskon 3,13% dibandingkan hari sebelumnya yang berada di level 516,49. Secara year-to-date (ytd)kinerja Indeks Bisnis-27 tercatat melemah 2,52%. 

Kondisi ini tidak terlepas dari kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang juga ditutup terkoreksi 1,96% dari hari sebelumnya menuju level 5.862,35, dan sepanjang tahun 2021, IHSG tercatat bergerak negatif sebesar 1,95% (ytd).

***

Memasuki tahun 2021, pasar meyakini tahun ini menjadi momentum untuk pemulihan ekonomi baik global maupun domestik setelah 2020 perekonomian dunia dihantam pandemi Covid-19.

Sejumlah negara terus berupaya meredam kasus Covid-19 salah satunya dengan mempercepat proses vaksinasi. Jika kasus Covid-19 dapat perlahan ditekan, maka diharapkan berbagai bidang termasuk ekonomi akan kembali pulih.

Awal Januari 2021, sinyal harapan January Effect terasa cukup kuat yang tercermin IHSG ditutup menguat hingga 2% pada awal perdagangan.

Selain itu, rilis data oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang melaporkan Indeks Harga Konsumen pada Desember 2020 mengalami inflasi 0,45% atau tertinggi sepanjang tahun 2020. BPS juga melaporkan surplus neraca perdagangan Indonesia pada 2020 yang mencapai US$21,74 miliar atau tertinggi sejak tahun 2011.

Selanjutnya data cadangan devisa Indonesia Desember 2020 yang dirilis Bank Indonesia (BI) naik menjadi US$135,89 miliar dan BI juga dalam laporan Prompt Manufacturing Index (PMI-BI) mencatat kinerja industri pengolahan pada kuartal IV-2020 sebesar 47,29%.

Kemudian hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 20-21 Januari 2021 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,75%.

Terkait untuk menekan kasus Covid-19 yang terus meningkat di Indonesia, pemerintah mulai mendistribusikan vaksin di pekan kedua Januari tepatnya dimulai pada 13 Januari 2021.

Presiden Joko Widodo menjadi orang Indonesia pertama yang menerima vaksin buatan Sinovac tersebut. Pemerintah juga terus memperketat aktivitas masyarakat dengan menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di wilayah Jawa dan Bali yang diperpanjang hingga 8 Februari 2021. 

Sepanjang Januari 2021, Kurs Referensi JISDOR menggambarkan nilai tukar Rupiah terhadap dollar AS tercatat melaju ke arah pelemahan. Namun rupiah masih terapresiasi 0,15% ke level Rp14.084 per dollar AS. Pada Jumat (29/1) kurs referensi JISDOR juga menunjukkan penguatan 0,25%  dibandingkan hari sebelumnya.

Sementara itu kabar dari Amerika Serikat (AS), pelantikan Joe Biden dan Kamala Harris pada 21 Januari 2021 menjadi sihir tersendiri bagi pergerakan pasar. Joe Biden merencanakan paket stimulus sebesar US$1,9 triliun.

Selain itu sesuai dengan ekspektasi pasar, hasil pertemuan Bank Sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) memutuskan untuk menjaga suku bunga tetap berada di level 0% hingga 0,25% serta mempertahankan kebijakan pembelian surat berharga senilai US$120 miliar per bulan sampai adanya progres signifikan pada target serapan ketenagakerjaan dan inflasi.

AS juga merilis data pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV-2020 mencapai 4,0% yang jauh lebih rendah dari kuartal III-2020 akibat kasus Covid-19 yang terus meningkat. Kemudian dari sisi tenaga kerja, rilis data klaim pengangguran AS tercatat sebanyak 847 ribu pengangguran.

Data perekonomian China juga menjadi perhatian investor, data kinerja PDB China untuk kuartal terakhir 2020 sebesar 6,5%, naik dari PDB China kuartal III/2020 yang sebesar 4,9%. Pertumbuhan ekonomi China melaju 2,3% pada 2020 sejalan dengan keberhasilan Negeri Panda dalam meredam dampak pandemi Covid-19 terhadap perekonomian.

Tercatat mayoritas Bursa Amerika Serikat kompak berada di zona hijau. Pada penutupan perdagangan Kamis (28/1) terlihat indeks NYSE Composite menguat 1,25% ke level 14.669,52. Diikuti indeks Dow Jones dan indeks S&P 500 yang juga menguat masing-masing 0,99% menuju 30.603,36 dan 0,98% ke level 3.787,38, selanjutnya indeks Nasdaq Composite juga menghijau ke level 13.337,16 atau 0,50%.

Mayoritas Bursa Asia terkoreksi pada penutupan Kamis (28/1). Tercatat indeks indeks Hang Seng turun ke level 28.550,77 atau 2,55%, kemudian diikuti indeks Shanghai Composite yang juga melemah 1,91% ke level 3.505,18. Selanjutnya indeks KOSPI dan indeks Strait Times (STI) yang masing-masing tergelincir 1,7% ke level 3.069,05 dan 1,3% ke level 2.920,3.

Berbagai macam sentimen positif dari dalam dan luar negeri direspons oleh investor domestik untuk melakukan aksi profit taking jangka pendek dan justru menjadi salah satu penekan bagi pasar saham. 

Perubahan konstituen atau rebalancing sejumlah indeks utama di Bursa Efek Indonesia dan kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Indonesia yang menembus angka lebih dari 1 juta kasus juga menjadi suatu batu penghalang bagi pasar untuk keluar dari zona merah.

Bahkan indeks acuan IHSG mengalami nasib buruk selama tujuh sesi beruntun setelah ditutup melemah pada perdagangan Jumat (29/1). Kondisi tersebut juga memupus harapan January Effect karena ditutup lebih rendah dari posisi awal bulan.

Sejumlah katalis positif maupun negatif yang terjadi sepanjang Januari 2021 menyebabkan IHSG dan indeks-indeks lainnya di Indonesia termasuk Indeks Bisnis-27 bergerak variatif.

Indeks Bisnis-27 merupakan indeks yang terdiri dari anggota konstituen dengan market capitalization besar (big cap) dan fundamental kinerja keuangan emiten yang baik berdasarkan kriteria yang ditetapkan tim Bisnis Indonesia Resources Center dan Komite Indeks Bisnis-27.

Berdasarkan market capitalization, struktur Indeks Bisnis-27 separuhnya ditopang oleh saham-saham di sektor keuangan yang berkontribusi 50,03% terdiri dari saham BBCA, BBRI, BMRI, BBNI dan BTPS. 

Pada perdagangan Jumat (29/1), Indeks Bisnis-27 harus puas karena masih berada di zona merah. Penurunan indeks ini sejalan dengan sektor keuangan yang tercermin pada indeks IDXFINANCE pada IDX-IC yang merosot paling dalam hingga 3,06%.

Saham BMRI dan BBRI menjadi pemimpin dalam penurunan indeks dengan masing-masing terkoreksi 6,74% ke level 6.575 dan 6,49% ke level 4.180. Sementara itu saham BBNI turun 3,90% ke level 5.550 dan saham BBCA melemah 2,03% atau 700 poin ke level 33.800. Sedangkan saham BTPS masih stagnan di level 3.400. 

Sedangkan sepanjang 2021, saham INKP tumbuh paling pesat hingga mencapai 23,74% (ytd) ke level harga 12.900 dan diikuti saham dari sektor jasa kesehatan yaitu MIKA mencetak kenaikan 6,23% (ytd) ke level 2.900.

Analisis Teknikal Sepanjang Januari 2021

Indeks Bisnis

Pergerakan Indeks Bisnis-27 menggunakan periode bulanan (Monthly) terlihat sudah melewati rerata pergerakan 60 hari (Moving Average/MA60). 

Penguatan indeks bisnis-27 terjadi setelah membentuk pola three white soldiers dan berakhir dengan pola shooting star, pola tersebut mengindikasikan sinyal terjadinya bearish dan diperkirakan harga akan kembali melanjutkan koreksinya

Selain itu indeks bisnis-27 bergerak diatas rerata pergerakan 60 hari (MA60), 90 hari (MA90), dan 120 hari (MA 120), yang menjadi menjadi modal untuk kembali menguat dalam jangka panjang.

Namun, Indikator stochastic pada grafik bulanan (monthly) sudah naik menuju wilayah jenuh beli (overbought). Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka suatu harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG Gonjang Ganjing Rupiah Kebijakan The Fed indeks bisnis27
Editor : Rivki Maulana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top