Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Koreksi Harga Dinilai Sementara, Prospek CPO akan Tetap Cerah

Malaysian Palm Oil Council (MPOC) yang memperkirakan harga komoditas ini akan berada di atas 3.000 ringgit per ton sepanjang tahun 2021. MPOC memprediksi rerata harga CPO pada tahun ini adalah sebesar 3.217 ringgit per ton.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 20 Januari 2021  |  08:18 WIB
Aktivitas di perkebunan PT Austindo Nusantara Jaya Tbk. (ANJT). Istimewa
Aktivitas di perkebunan PT Austindo Nusantara Jaya Tbk. (ANJT). Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) terkoreksi setelah menikmati tren positif pada perdagangan awal tahun 2021. Meski demikian, tren penurunan harga dinilai hanya bersifat sementara.

Berdasarkan data dari laman Bursa Malaysia pada Selasa (19/1/2021), harga CPO untuk pengiriman April 2021 terpantau turun 77 poin di harga setelmen 3.350 ringgit per ton. Sebelumnya, harga CPO sempat mencapai titik tertingginya di posisi 3.360 ringgit per ton.

Pada perdagangan dua pekan lalu, harga CPO sempat menyentuh level tertingginya sejak 2008 dan masuk kisaran 4.000 ringgit per ton.

Terkait hal tersebut, Analis Capital Futures Wahyu Laksono menuturkan, penurunan harga CPO yang terjadi saat ini merupakan hal wajar. Apalagi, harga minyak kelapa sawit juga sempat mendekati level 4.000 ringgit per ton beberapa pekan lalu.

“Level harga itu sudah mendekati kisaran tertinggi dalam 6 tahun dan sudah memasuki fase jenuh beli (overbought),” jelasnya saat dihubungi Bisnis, Selasa (19/1/2021).

Wahyu mengatakan, salah satu faktor koreksi harga CPO saat ini adalah produksi yang kembali digenjot. Hal ini akan berimbas pada kembalinya pasokan minyak sawit dunia secara perlahan setelah sebelumnya sempat tersendat.

Ia melanjutkan, reli harga CPO yang sempat terjadi juga mengancam prospek pengembangan bahan bakar biodiesel. Tekanan di sektor biodiesel tersebut, katanya, akan turut menekan harga minyak kelapa sawit.

Meski demikian, Wahyu menilai prospek penguatan harga minyak kelapa sawit masih terbuka dalam beberapa waktu ke depan. Faktor penopang peluang kenaikan harga CPO  salah satunya adalah ancaman penurunan panen akibat fenomena perubahan iklim La Nina yang melanda kawasan tropis pasifik.

Wahyu menjelaskan, La Nina memicu curah hujan tinggi hingga 40 persen di atas curah hujan normal. Berkaca pada kejadian sebelumnya, La Nina selalu diiringi dengan bencana hidrometeorologis seperti banjir dan tanah longsor.

Wahyu melanjutkan, pergerakan harga CPO selama ini juga terkait siklus bisnis komoditas ini. Wahyu menjelaskan, anjloknya permintaan di awal tahun terkait virus corona akan menekan produsen atau perusahaan penghasil CPO.

"Selain itu, kebijakan lockdown atau pembatasan kerja serta tekanan harga juga akan menekan produksi sehingga berimbas pada pasokan," ujarnya.

Menurutnya, pergerakan harga CPO hingga kuartal I/2021 kemungkinan akan fluktuatif seiring dengan faktor fundamental komoditas ini yang cenderung tarik menarik.

Salah satu faktor fundamental yang mempengaruhi CPO adalah lonjakan harga yang dialami oleh komoditas kompetitor, yakni kacang kedelai. Ia menuturkan,  harga kacang kedelai juga tengah menguat seiring dengan antisipasi penurunan produksi minyak kelapa sawit dari Indonesia dan Malaysia.  

Di sisi lain, faktor global yang mempengaruhi harga CPO hingga saat ini masih cukup mendukung pergerakan harga.  Wahyu menjelaskan, saat ini The Federal Reserve (The Fed) menggunakan target rata-rata inflasi yang diperbolehkan melewati 2 persen tanpa harus mengubah kebijakannya.

Kebijakan tersebut, ujar Wahyu, sangat akomodatif dan dapat memicu pelemahan dolar AS serta menguatkan lawan dolar AS seperti mata uang lain dan komoditas seperti minyak kelapa sawit.

"Meski rentan koreksi, sementara ini harga CPO masih dalam uptrend. Pergerakan harga dalam jangka pendek kemungkinan berada di 3.200 hingga 3.600 ringgit per ton," katanya.

Prospek positif harga CPO juga diungkapkan oleh Malaysian Palm Oil Council (MPOC) yang memperkirakan harga komoditas ini akan berada di atas 3.000 ringgit per ton sepanjang tahun 2021. MPOC memprediksi rerata harga CPO pada tahun ini adalah sebesar 3.217 ringgit per ton.

Chief Executive Officer MPOC Datuk Dr Kalyana Sundram mengatakan, salah satu faktor pendukung harga CPO adalah terbatasnya produksi karena curah hujan yang tinggi pada Januari – Februari tahun ini. Hal tersebut akan mengimbangi sentimen pemberlakuan pajak ekspor minyak kelapa sawit di Malaysia.

Sundram memprediksi, harga minyak kelapa sawit akan bertahan di kisaran 3.650 ringgit per ton sepanjang kuartal I/2021. Adapun, proyeksi optimistis MPOC menempatkan level harga CPO sepanjang 2021 di kisaran 3.850 ringgit per ton dan titik terendah di posisi 3.500 ringgit per ton.

“Dampak pandemi virus corona terhadap CPO akan kian pudar memasuki paruh kedua tahun 2021. Sehingga, harga minyak kelapa sawit pun akan membaik dengan sendirinya,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

cpo harga cpo La Nina
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top