Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dolar AS Bakal Masih Loyo, Emas Lanjutkan Penguatan

Pada perdagangan Rabu (13/1/2021) hingga pukul 17.42 WIB harga emas di bursa Comex naik 0,62 persen atau 11,5 poin ke posisi US$1.855,7 per troy ounce.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 13 Januari 2021  |  18:20 WIB
Aneka emas batangan beragam ukuran dan bentuk. - Bloomberg
Aneka emas batangan beragam ukuran dan bentuk. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Harga emas lanjutkan penguatan seiring dengan proyeksi pelemahan dolar AS yang menghidupkan kembali permintaan logam sebagai aset investasi alternatif.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Rabu (13/1/2021) hingga pukul 17.42 WIB harga emas di bursa Comex naik 0,62 persen atau 11,5 poin ke posisi US$1.855,7 per troy ounce.

Sementara itu, harga emas di pasar spot terkoreksi tipis 0,09 persen ke posisi US$1.853,05 per troy ounce.

Di sisi lain, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang utama bergerak menguat 0,17 persen ke posisi 90,242.

Tim Analis Monex Investindo Futures mengatakan bahwa harga emas berpeluang melanjutkan tren penguatannya didukung kekhawatiran pasar terhadap lonjakan kasus positif Covid-19 secara global.

Kenaikan kasus positif yang terus berlanjut berpotensi merusak proyeksi pemulihan ekonomi global tahun ini sehingga meningkatkan minat investasi ke aset safe haven seperti emas.

“Emas menargetkan resisten US$1.868 per troy ounce di tengah outlook pelemahan dolar AS karena koreksi nilai surat berharga AS,” tulis Tim Riset Monex seperti dikutip dari publikasi riset hariannya, Rabu (13/1/2021).

Adapun, jika emas berbalik melemah, harga berpotensi turun ke bawah US$1.852 per troy ounce sebelum menguji level support lainnya di kisaran US$1.829 hingga US$1.836 per troy ounce.

Di sisi lain, sejumlah analis masih memandang bullish pergerakan harga emas tahun kendati sentimen vaksinasi Covid-19 telah dimulai di beberapa negara, termasuk Indonesia yang dimulai pada Rabu (13/1/2021).

Analis logam mulia Standard Chartered Suki Cooper mengatakan bahwa harga emas masih akan berlanjut karena adanya prospek kenaikan risiko inflasi AS yang tampaknya benar akan terjadi.

“Jadi kami menilai selama kuartal I/2021 pasar akan melihat harga emas menguji ulang level tertingginya di kisaran US$2.000 per troy ounce,” ujar Cooper seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (13/1/2021).

Adapun, AS akan merilis data consumer price index (CPI) Desember 2020 pada Rabu (13/1/2021) pukul 20.00 WIB. Pasar mengestimasikan CPI AS periode itu berada di posisi 0,4 persen month to month.

Sementara itu, Tim riset Indonesia Commodity and Derivatives Exchange menjelaskan bahwa sebagian besar suasana optimis untuk harga emas berasal  dari komentar terbaru dari pembuat kebijakan Fed yang menunjukkan angka ekonomi baru-baru ini akan disambut baik mulai dari paruh kedua 2021.

Selain itu, optimisme terhadap harapan stimulus fiskal besar-besaran dari Presiden terpilih AS Joe Biden, ikut menyumbang dukungan bagi emas untuk melanjutkan penguatan.

Harga emas kini masih berjuang untuk tembus zona resistance penting di areal US$1.865 per troy ounce dengan menjaga level support selanjutnya di areal US$1.850 - US$.1845. Sementara itu, resistance terjauhnya berada di areal US$1.872 hingga ke areal US$1.875 per troy ounce,” tulisnya seperti dikutip dari publikasi risetnya, Rabu (13/1/2021).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Emas Hari Ini dolar as harga emas comex
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top