Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Emas Terjun Bebas, Masih Bisa Cuan Gak Ya?

Harga emas jatuh ke level US$1.700 per troy ounce menyusul optimisme terhadap prospek pemulihan ekonomi. Kendati demikian, sejak awal tahun harga emas masih naik 17 persen.
Rivki Maulana
Rivki Maulana - Bisnis.com 28 November 2020  |  12:14 WIB
Emas batangan cetakan PT Aneka Tambang Tbk. - logammulia.com
Emas batangan cetakan PT Aneka Tambang Tbk. - logammulia.com

Bisnis.com, JAKARTA - Harga emas dunia terjun bebas ke bawah level US$1.800 per ounce menyusul optimisme pelaku pasar terhadap prospek pemulihan ekonomi. Di dalam negeri, harga emas per gram juga sudah dibanderol di bawah Rp950.000.

Berdasarkan data Bloomberg, harga emas Comex untuk kontrak Februari 2021 anjlok 1,28 persen secara harian ke level US$1.788,10 per ounce. Tentu saja level harga ini sangat merosot bila dibandingkan dengan rekor pada Agustus 2020 lalu yang menyentuh US$2.000 per ounce. 

Indeks dolar AS yang jatuh biasanya mendukung emas. Tetapi analis pasar percaya hal itu tidak berdampak pada logam mulia karena investor telah menggunakan dolar AS sebagai tempat berlindung yang aman yang mirip dengan emas selama pandemi Covid-19.

“Begitu harga menyentuh di bawah level kunci 1.800 dolar AS, itu memicu aksi jual. Kemungkinan harga akan menguji level 1.750 dolar AS saat kami memiliki alasan fundamental yang kuat seperti vaksin," kata analis OANDA Craig Erlam seperti dikutip dari Antara, Sabtu (28/11/2020).

Semakin membebani emas, pasar saham  AS berpacu ke rekor tertinggi di tengah optimisme vaksin. Investor juga berani bertaruh perdagangan global lebih tenang di bawah pemerintahan Joe Biden yang baru terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat. 

Presiden AS Donald Trump mengatakan jika Electoral College memilih Biden, dia akan meninggalkan Gedung Putih. Tentu hal itu  membuka jalan bagi Biden untuk secara resmi menjabat sebagai presiden.

“Namun, dengan suku bunga yang sangat rendah dan prospek stimulus ekonomi yang lebih besar, emas terlihat kuat dalam jangka panjang,” kata analis Natixis, Bernard Dahdah Dahdah.

Untuk diketahui, dampak ekonomi dari pandemi Covid-19 telah membuat bank-bank sentral global menekan tingkat suku bunga.

Bersamaan dengan itu, sejumlah besar stimulus ke dalam perekonomian telah menimbulkan kekhawatiran akan inflasi yang lebih tinggi, membantu emas melonjak lebih dari 17 persen sepanjang tahun ini.

Di sisi lain, walaupun kabar soal vaksin menekan harga emas hingga ke level terendah dalam empat bulan, potensi untuk rebound masih ada. Dilansir dari Kitco News, analis di CBIC memperkirakan harga emas tahun depan bakal menyentuh US$2.300 per troy ounce. 

Wah, kenapa bisa demikian? CIBC beralasan, dunia masih menghadapi dampak ekonomi akibat Covid-19. Kehadiran vaksin, tidak serta merta membuat perekonomian kembali bugar. CBIC menilai, terlalu dini untuk menganggap vaksin sebagai penentu permainan dalam dinamika perekonomian global.

"Risiko ekonomi dan ketidakpastian masih jauh dari kata selesai. Kita masih menghadapi gelombang kedua dan apa yang menjadi perlambatan ekonomi 15-18 bulan adalah efek jangka panjang," tulis Anita Soni.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Emas Hari Ini Harga Emas Antam

Sumber : Antara

Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top