Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Saham BUMN Tambang Tak Bertenaga, Asing Masih Incar ANTM, INCO, dan TINS

Saham-saham BUMN tambang berbalik koreksi setelah melejit pada perdagangan kemarin.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 19 November 2020  |  18:18 WIB
Karyawan mengakses website pembelian emas logam mulia di Butik Antam, Jakarta, Selasa (8/9/2020). Harga emas PT Aneka Tambang Tbk. pada hari perdagangan Selasa (8/9/2020) menurun dibandingkan dengan perdagangan hari sebelumnya. Bisnis - Himawan L Nugraha
Karyawan mengakses website pembelian emas logam mulia di Butik Antam, Jakarta, Selasa (8/9/2020). Harga emas PT Aneka Tambang Tbk. pada hari perdagangan Selasa (8/9/2020) menurun dibandingkan dengan perdagangan hari sebelumnya. Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA - Setelah berhasil melejit seiring dengan sentimen pengembangan pabrik baterai kendaraan listrik, kini saham anggota Holding BUMN Tambang justru parkir di zona merah. Kendati demikian, investor asing tampak masih menyerbu saham-saham tersebut.

Pada penutupan perdagangan Kamis (19/11/2020), saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) terkoreksi 0,4 persen ke level Rp1.235. Kinerja ANTM berbalik melemah setelah melejit pada perdagangan sebelumnya.

Bahkan, ANTM menjadi saham yang paling aktif diperdagangkan pada Rabu (18/11/2020) berdasarkan nilai di Bursa Efek Indonesia, mencapai Rp1,1 triliun.

Selain itu, saham PT Timah Tbk. juga ditutup melemah ke posisi Rp1.130 turun 0,88 persen. Hanya, saham PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) yang berhasil bertahan di zona hijau dan parkir di level Rp4.690, naik 0,43 persen.

Di sisi lain, meskipun kinerja pergerakan saham tidak begitu impresif seperti sebelumnya, investor asing masih tampak memburu ketiga saham tersebut pada perdagangan kali ini.

Investor asing tercatat melakukan transaksi net buy di INCO mencapai Rp13,62 miliar, sedangkan ANTM sebesar Rp5,1 miliar, dan TINS sebesar Rp2,79 miliar.

Sebelumnya, Analis Samuel Sekuritas Indonesia Dessy Lapagu mengatakan bahwa saham emiten nikel mendapatkan katalis positif dari kabar rencana penandatanganan LG Chem, perusahaan Korea Selatan, dengan Pemerintah Indonesia pada akhir pekan ini terkait proyek baterai mobil listrik atau Indonesia Battery Holding (IBH).

Adapun hal itu disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Pandjaitan dalam sebuah seminar virtual Selasa (18/11/2020).\

Selain itu, Contemporary Amperex Technology Co. Ltd dikabarkan juga sudah melakukan penandatanganan dengan PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) pada pekan lalu. Kolaborasi itu menurutnya untuk pembuatan lithium battery.

“Emiten yang akan mendapat benefit langsung dari proyek ini adalah ANTM sebagai anak usaha MIND ID sekaligus penyedia raw material nickel ore,” papar Dessy kepada Bisnis, Rabu (18/11/2020).

Dessy berada di posisi overweight untuk sektor metal dan mining, terutama rekomendasi buy untuk ANTM dengan target price Rp1.460 per saham dan INCO dengan target price Rp5.050.

Sementara itu, Analis RHB Sekuritas Ghibran Al Imran mengatakan bahwa secara jangka panjang, penguatan saham nikel masih akan bertahan lama terutama jika pabrik baterai kendaraan listrik mulai terbangun.

Namun, Ghibran menilai secara jangka pendek pergerakan sudah tampak goyah dan rawan aksi profit taking.

“Saya lebih prefer ke INCO karena pure nickel play, walaupun ANTM juga menarik apalagi dengan katalis pembentukan holding baterai BUMN,” ujar Ghibran kepada Bisnis, Rabu (18/11/2020).

Di sisi lain, eksposur ANTM terhadap emas mungkin akan membawa katalis negatif bagi saham ANTM mengingat harga emas mulai melemah dengan ekspektasi ekonomi membaik pada 2021, apalagi jika vaksin terdistribusi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG BUMN pertambangan
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

BisnisRegional

To top