Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Prediksi Musim Dingin Meleset, Harga Gas Alam Loyo

Dalam perdagangan satu bulan terakhir harga gas alam untuk kontrak Desember 2020 di bursa Nymex telah terkoreksi hingga 17,4 persen.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 17 November 2020  |  17:21 WIB
Pompa angguk di ladang minyak dan gas - Bloomberg/Andrey Rudakov
Pompa angguk di ladang minyak dan gas - Bloomberg/Andrey Rudakov

Bisnis.com, JAKARTA - Gas alam menjadi komoditas energi dengan kinerja harga terburuk dalam satu bulan terakhir di tengah proyeksi perkiraan musim dingin yang lebih hangat dan memberi tekanan permintaan gas sebagai pemanas.

Berdasarkan data Bloomberg, dalam perdagangan satu bulan terakhir harga gas alam untuk kontrak Desember 2020 di bursa Nymex telah terkoreksi hingga 17,4 persen.

Sementara itu, komoditas energi lainnya berhasil naik didukung optimisme perkembangan vaksin Covid-19, seperti minyak jenis WTI untuk kontrak Januari 2021 di bursa Nymex naik 0,89 persen dalam satu bulan terakhir dan minyak Brent di bursa ICE kontrak Januari 2021 menguat 1,96 persen.

Bahkan, batu bara Newcastle untuk kontrak Desember 2020 saja berhasil menguat 5,92 persen sepanjang satu bulan terakhir.

Adapun, pada perdagangan Selasa (17/11/2020) hingga pukul 14.50 WIB harga gas alam kontrak Desember 2020 di bursa Nymex menguat 0,78 persen ke posisi US$2,718 per MMBtu.

Mengutip Commodity Weather Group, cuaca baru-baru ini lebih hangat daripada perkiraan sebelumnya. Hal itu pun menjadi sinyal bahwa pasar gas alam akan mengalami penurunan permintaan.

Padahal, kuartal akhir setiap tahunnya akan menjadi musim puncak permintaan gas alam dan investor dalam beberapa pekan terakhir telah menumpuk taruhan bullish pada gas alam di tengah harapan bahwa musim dingin tahun ini akan meningkatkan permintaan untuk bahan bakar pemanas.

Tidak hanya itu, investor berharap peningkatan permintaan itu akan membantu menghapus kelebihan pasokan yang terjadi pada awal tahun ini yang mengirim harga ke level terendah dalam beberapa dekade terakhir.

Adapun, harga gas alam sempat ke level tertingginya sejak dua tahun terakhir pada bulan lalu, yaitu di kisaran US$3 per MMBtu.

Penguatan juga didukung oleh produksi gas alam yang lebih rendah setelah para penghasil minyak serpih memangkas output seiring dengan pengurangan produksi minyak dunia. 

Analis Pasar Senior Price Futures Group Phill Flynn mengatakan bahwa yang terjadi pada pasar gas alam saat ini mengingatkan investor untuk tidak boleh mempercayai ramalan cuaca jangka panjang.

“Dasar fundamental gas alam terlihat mendukung, tetapi jika kita mengalami musim dingin yang lebih hangat lagi tahun ini, harga gas alam mungkin akan tetap di posisinya saat ini,” ujar Flynn dalam publikasi risetnya, seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (17/11/2020).

Sebelumnya, Devin McDermott, Analis Morgan Stanley memperkirakan reli yang terjadi pada bulan lalu hanya akan berlangsung dalam periode waktu singkat karena prediksi pertumbuhan menengah dari para produsen gas.

Harga gas alam gagal ke level prediksinya di kisaran US$5 per MMBtu karena cuaca tidak lebih dingin daripada yang diharapkan pasar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

gas alam
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top