Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pengumuman Kenaikan Cukai Hasil Tembakau Mundur, Saham Emiten Rokok Nyungsep

Pelemahan harga saham emiten rokok dipimpin oleh PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) yang menurun 4,82 persen ke level Rp41.000, diikuti dengan PT Wismilak Inti Makmur Tbk. (WIIM) yang juga ikut melorot 4,69 persen ke level Rp366.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 20 Oktober 2020  |  12:57 WIB
Pengunjung berjalan di dekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham di kantor PT Bursa Efek Indonesia (BEI)  di Jakarta, Jumat (25/9/2020). Bisnis - Dedi Gunawan
Pengunjung berjalan di dekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham di kantor PT Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Jumat (25/9/2020). Bisnis - Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – Harga saham emiten rokok dan tembakau kompak merosot hingga penutupan sesi pertama perdagangan Selasa (20/10/2020)

Pelemahan harga saham emiten rokok dipimpin oleh PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) yang menurun 4,82 persen ke level Rp41.000, diikuti dengan PT Wismilak Inti Makmur Tbk. (WIIM) yang juga ikut melorot 4,69 persen ke level Rp366.

Tak hanya itu, harga saham PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) juga melemah 4 persen bersamaan dengan PT Indonesian Tobacco Tbk. (ITIC) yang melemah tipis 0,7 persen. Di sisi lain, saham PT Bentoel Internasional Investama Tbk. (RMBA) menjadi satu-satunya emiten yang bergerak stagnan pada penutupan perdagangan sesi pertama hari ini.

Berdasarkan nilai transaksinya, saham GGRM tercatat menjadi saham emiten rokok dan tembakau paling banyak ditransaksikan pada awal sesi perdagangan hari ini dengan total akumulasi jual dan beli mencapai Rp202,76 miliar.

Mayoritas pelaku pasar dalam negeri terpantau paling banyak melakukan transaksi saham GGRM. Sementara, nilai jual asing untuk saham GGRM juga cukup tinggi yakni sebesar Rp20,09 miliar.

Pelemahan saham emiten rokok dan tembakau ini memang terpantik isu penundaan pengumuman kenaikan tarif cukai hasil tembakau (CHT) yang mundur dari jadwal yang telah ditentukan.

Dikutip dari pemberitaan sebelumnya, penundaan ini terjadi karena dalam menghitung tarif kenaikan CHT pemerintah perlu memasukkan faktor pandemi Covid-19 yang telah memukul hampir semua sektor perekonomian, termasuk industri hasil tembakau.

Direktur Jenderal Bea & Cukai Kementerian Keuangan Heru Pambudi mengatakan dengan kondisi tersebut pemerintah sangat berhati-hati dalam menentukan besaran tarif kenaikan cukai yang akan berlaku tahun depan.

Heru menyebutkan pemerintah masih berkomunikasi dengan semua stakeholder untuk menghasilkan solusi yang terbaik termasuk menjaga menjaga dampaknya terhadap industri tembakau yang memang banyak menyerap tenaga kerja.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

saham bursa efek indonesia industri rokok emiten rokok
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top