Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kondisi Politik Thailand Kacau, Investor Asing Kabur

Aliran modal keluar dari pasar modal Thailand telah mencapai US$9,07 miliar akibat aksi demonstrasi besar-besaran menuntut reformasi.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 16 Oktober 2020  |  08:19 WIB
Para pedemo pro-demokrasi memadati jalan saat aksi protes antipemerintah, pada peringatan 47 tahun pemberontakan mahasiswa tahun 1973, di Bangkok, Thailand, Rabu (14/10/2020). - Antara/Reuters
Para pedemo pro-demokrasi memadati jalan saat aksi protes antipemerintah, pada peringatan 47 tahun pemberontakan mahasiswa tahun 1973, di Bangkok, Thailand, Rabu (14/10/2020). - Antara/Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Aksi demonstrasi besar-besaran yang terjadi di Thailand diperkirakan akan menambah ketidakpastian terhadap pasar saham dan membuat investor menarik dana dari negara tersebut.

Dilansir dari Bloomberg, Jumat (16/10/2020), investor asing telah menarik dananya dari pasar Thailand sebesar US$9,07 miliar atau sekitar Rp133 triliun. Jumlah ini berpotensi melewati rekor capital outflow yang terjadi di Thailand pada 2018 lalu.

Adapun indeks acuan SET mencatatkan penurunan terbesar sejak 30 Juli 2020 dengan anjlok 1,7 persen pada Kamis kemarin. Indeks tersebut telah turun 21 persen pada tahun 2020, atau penurunan terbesar ketiga di wilayah Asia setelah Singapura dan Filipina.

Indeks tersebut diperdagangkan sekitar 17 kali dari estimasi penerimaan selama 12 bulan. Jumlah tersebut lebih besar dibandingkan dengan level 15 kali dari rerata estimasi penerimaan selama 5 tahun.

Aksi penarikan modal ini terjadi menyusul keadaan darurat nasional yang ditetapkan oleh Perdana Menteri Thailand, Prayuth Chan-Ocha menyusul aksi unjuk rasa yang dilakukan masyarakat Thailand. Mereka menuntut adanya reformasi bentuk pemerintahan monarki dan mendukung demokrasi.

Kekacauan politik di Negeri Gajah Putih kian menjadi seiring dengan pandemi virus corona yang menghantam dua sektor utama perekonomian, yakni pariwisata dan perdagangan. Keadaan darurat nasional tersebut ditetapkan setelah demonstran berhasil menembus pagar batas polisi di kantor pemerintahan perdana menteri.

“Pasar saham di Thailand tidak menjadi pilihan para investor. Perkembangan terkini di negara itu mengkonfirmasi kekhawatiran mereka terkait risiko politik Thailand,” kata Prapas Tonpibulsak, chief investment officer Talis Asset Management Co.

Senada, Ekonom Standard Chartered Bangkok, Tim Leelahaphan mengatakan risiko politik ini akan tetap tinggi dalam beberapa waktu ke depan. Hal ini juga akan berdampak pada outlook perekonomian Thailand di sisa tahun 2020 dan awal tahun 2021.

“Perusahaan-perusahaan di Thailand memiliki outlook penerimaan yang buruk dan tidak akan menarik perhatian investor asing. Kondisi politik saat ini akan menambah risiko negatif,” ujar Komsorn Prakobphol, Senior Investment Strategist Tisco Financial Group Pcl.

Meski demikian, penurunan valuasi di pasar saham dinilai memunculkan peluang beli yang potensial. Nirgunan Tiruchelvam, Head Of Consumer Equity Tellimer mengatakan pasar Thailand kemungkinan akan mengalami reli kenaikan tajam dalam jangka waktu menengah seiring dengan rencana pembukaan sektor pariwisata di negara tersebut.

Pemerintah Thailand telah mengumumkan rencana untuk membuka kunjungan dari sejumlah kecil wisatawan mancanegara. Data dari Bloomberg menyebutkan, konsumsi dari para wisatawan luar negeri berkontribusi terhadap seperlima dari produk domestik bruto (PDB) Thailand.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

thailand bursa saham
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top