Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Investasi di Masa Pandemi, Investor Memilih Menimbun Uang Tunai

JP Morgan menyebut kecenderungan memegang kas yang tinggi merupakan konsekuensi dari kebijakan dana murah (easy money) yang diambil oleh para pembuat kebijakan saat ini. 
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 28 September 2020  |  09:48 WIB
JP Morgan Chase - Reuters/Lucas Jackson
JP Morgan Chase - Reuters/Lucas Jackson

Bisnis.com, JAKARTA - JPMorgan Chase&Co. mengatakan investor akan memegang uang tunai atau cash dalam jumlah besar selama aset safe haven tak mampu memberikan penawaran return menarik pada masa pandemi.

Namun, bagi investor yang memiliki toleransi risiko tinggi diperkirakan tetap akan masuk ke pasar saham, surat utang, maupun aset-aset di negara berkembang (emerging market).

Tim Strategis JPMorgan Chase&Co. yang dipimpin oleh John Normand menyampaikan bahwa kecenderungan memegang kas yang tinggi merupakan konsekuensi dari kebijakan dana murah (easy money) yang diambil oleh para pembuat kebijakan saat ini. 

Di sisi lain, aset-aset siklikal masih sulit memberikan penawaran menarik karena sebagian besar yield berada di level terendahnya.

“Performa aset defensif sangat lemah, sehingga proteksi lindung nilai dari setiap aksi jual saham (equity sell-off) menjadi tertekan setidaknya selama sedekade terakhir,” tulis Normand dkk, seperti dikutip Bloomberg pada Senin (28/9/2020)0

Tim strategis dari bank investasi Amerika Serikat itu mengakui bahwa pandangan konservatif tidak akan populer di pasar apalagi bagi investor yang memiliki minat tinggi untuk aset-aset berisiko.

Namun demikian, setidaknya pengetahuan mengenai tumpukan kas yang dimiliki masyarakat dapat mendorong investor membagi uang tunai mereka ke dalam sejumlah kelas aset.

“Tumpukan tunai tadi diperkirakan tetap masuk ke saham, surat utang, dan emerging market, tentu saja,” lanjut JPMorgan Chase&Co.

Adapun, indeks S&P 500 telah anjlok sekitar 8 persen sejak menyentuh rekor tertinggi pada 2 September 2020 karena kekhawatiran investor mengenai valuasi saham, lonjakan kasus Covid-19, dan kedatangan Pemilu AS.

Tak seperti biasanya, ketika saham turun, minat investor untuk aset safe haven seperti obligasi pemerintah AS (US Treasury), yen Jepang, dollar AS, franc Swiss, euro, hingga emas tidak banyak berubah dan bahkan ikut melemah.

JPMorgan menegaskan sebenarnya portofolio yang berisi aset aman masih patut dipegang pada masa pandemi menuju resesi ini karena dapat memberikan return hingga 60 persen—80 persen dibandingkan penurunan pasar saham.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

investasi Resesi tips keuangan
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top