Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Saham Soho Global Health (SOHO) Terus Jeblok, Kenapa Ya?

Sejak suspensi dibuka, selalu menyentuh batas penghentian perdagangan saham otomatis atau auto reject bawah.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 24 September 2020  |  10:17 WIB
Pengunjung memotret papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (14/9/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Pengunjung memotret papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (14/9/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Saham emiten farmasi PT Soho Global Health Tbk. (SOHO) kembali harus menelan pil pahit setelah diberi stempel auto reject bawah atau ARB untuk dua hari beruntun.

Setelah BEI menetapkan suspensi sahamnya pada Selasa (22/9/2020), pergerakan harga saham emiten berkode sandi SOHO tersebut kembali jeblok pada Kamis (24/9/2020).

Setelah beberapa detik perdagangan dibuka, saham SOHO langsung dibanting hingga ke level Rp11.775, terkoreksi 6,92 persen atau 875 poin. Adapun, pada perdagangan hari sebelumnya, saham SOHO juga terkena ARB dengan penurunan sebesar 6,99 persen.

Pada hari ini, aksi jual dipelopori oleh broker Indo Premier Sekuritas yang juga bertindak sebagai underwriter perseroan semasa IPO berjalan. Jika ditelisik lebih jauh, selama tiga pekan terakhir, Indo Premier Sekuritas juga menjadi broker yang paling banyak melakukan aksi jual beli saham SOHO.

Emiten produsen suplemen kesehatan Imboost ini memang menjadi buah bibir pelaku pasar sejak masa penawaran saham perdananya Selasa (8/9/2020) lalu. Dibuka dengan harga penawaran Rp1.820, praktis harga saham SOHO masih menanjak 546,97 persen terhitung sejak masa IPO-nya awal bulan lalu.

Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta Utama mengatakan bahwa volatilitas harga saham SOHO memang wajar karena belum menyesuaikan dengan kondisi pasar.

“Kalau baru selesai IPO, (harga saham bergerak volatil) itu sudah sangat wajar karena masih euforia IPO,” ungkapnya kepada Bisnis baru-baru ini.

Di sisi lain, analis Phillip Sekuritas Anugerah Zamzami Nasr mengatakan bahwa investor memang cenderung menyukai semua emiten farmasi di kondisi penyebaran pandemi seperti saat ini dikarenakan ekspektasi konsumsi obat-obatan dan produk kesehatan akan meningkat. Hal ini yang membuat harga sahamnya meningkat drastis pada dua pekan awal perdagangan.

“SOHO cenderung punya market cap kecil sehingga sangat terdorong secara signifikan oleh minat beli atau arus dana yang besar,” tuturnya kepada Bisnis baru-baru ini. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

soho global health
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top