Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ditopang Dua Sentimen Ini, Nilai Tukar Rupiah Berpotensi Menguat

Kekhawatiran pasar terhadap penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) lebih ketat di DKI Jakarta pada Senin (14/9/2020) dinilai tidak akan mempengaruhi pergerakan rupiah secara signifikan.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 14 September 2020  |  05:50 WIB
Karyawati menunjukan Uang Rupiah dan Dollar AS di salah satu kantor cabang Bank BNI di Jakarta, Kamis (3/9/2020).  Bisnis - Himawan L Nugraha
Karyawati menunjukan Uang Rupiah dan Dollar AS di salah satu kantor cabang Bank BNI di Jakarta, Kamis (3/9/2020). Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA - Sejumlah data ekonomi yang dijadwalkan rilis pekan ini diyakini dapat membantu rupiah untuk membatasi pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat dalam jangka pendek.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan bahwa pada pekan depan terdapat dua agenda ekonomi yang akan mempengaruhi laju pergerakan nilai tukar rupiah, yaitu rilis neraca dagang dan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI).

Dia memproyeksikan neraca dagang untuk periode Agustus 2020 akan kembali surplus di kisaran US$2,24 miliar dan BI akan mempertahankan suku bunga acuannya pada bulan ini.

“Dua hal ini akan menjadi pendukung bagi rupiah untuk menguat dalam jangka pendek,” ujar Josua saat dihubungi Bisnis, Minggu (13/9/2020).

Kendati demikian, sentimen positif itu tidak serta merta akan membuat rupiah nyaman melenggang di zona hijau.

Ketidakpastian akibat Covid-19 masih akan terus membayangi pergerakan nilai tukar. Apalagi, perkembangan vaksin virus itu belum sepenuhnya positif dan masih membutuhkan waktu untuk distribusi sehingga potensi pertumbuhan ekonomi yang lebih lemah pun masih membayangi.

Sementara itu, Josua meyakini bahwa kekhawatiran pasar terhadap diterapkannya kembali pembatasan sosial berskala besar (PSBB) lebih ketat di DKI Jakarta pada Senin (14/9/2020) tidak akan mempengaruhi pergerakan rupiah secara signifikan.

Dia menilai pasar telah menghargai sentimen tersebut pada dua hari perdagangan terakhir sehingga respon pada perdagangan pekan depan terhadap PSBB sudah tidak lagi sebesar sebelumnya.

Apalagi, PSBB yang akan diberlakukan pada Senin (14/9/2020) tidak akan seketat seperti pada April lalu sehingga seharusnya pasar tidak perlu bereaksi berlebihan.

Adapun, berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Jumat (11/9/2020) rupiah parkir di level 35 poin atau 0,24 persen ke posisi Rp14.890 per dolar AS. Posisi tersebut merupakan yang terlemah sejak 12 Mei 2020 sebesar Rp14.905 per dolar AS.

Secara umum, selama sepekan terakhir rupiah sudah melemah 0,96 persen, sekaligus menjadi mata uang  terlemah di Asia. Selain rupiah, ringgit Malaysia dan dolar Singapura juga melemah masing-masing 0,1 persen dan 0,26 persen.

Sementara itu, baht Thailand, yen Jepang dan Yuan China terpantau menguat masing-masing 0,29 persen, 0,07 persen, dan 0,12 persen.

Di sisi lain, pasar modal mencatatkan arus modal asing keluar bersih pada Jumat (11/9/2020) sebesar US$310 juta, sedangkan pada pasar obligasi arus keluar asing sebesar US$31 juta sampai dengan Kamis (10/9/2020).

Josua memproyeksikan rupiah masih bergerak cenderung terbatas di kisaran Rp14.900 hingga Rp15.100 per dolar AS.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gonjang Ganjing Rupiah dolar as Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top