Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Curhat Karyawan PT INTI, dari Penunggakan Gaji sampai Tak Pakai AC Lagi

Ketua Serikat Pekerja PT INTI Ahmad Ridwan Al Faruq mengatakan sejak Februari lalu perusahaan belum membayarkan gaji seluruh karyawan, baik di level staf hingga level direksi dan komisaris.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 08 September 2020  |  20:21 WIB
Logo PT INTI - Istimewa
Logo PT INTI - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Para pekerja di PT Industri Telekomunikasi Indonesia (PT INTI) mengaku belum memperoleh gaji selama 7 bulan. Selain itu, jumlah karyawan pun terus dipangkas.

Ketua Serikat Pekerja PT INTI Ahmad Ridwan Al Faruq mengatakan sejak Februari lalu perusahaan belum membayarkan gaji seluruh karyawan, baik di level staf hingga level direksi dan komisaris.

“Rata semua [belum dibayarkan]. Gaji karyawan, direktur, komisaris, semua memang tertunggak,” katanya saat dihubungi Bisnis, Selasa (8/9/2020)

Dia menyebut gaji terakhir yang diterima para karyawan hanya sebesar Rp1 juta yang diberikan pada Februari. Setelahnya, perusahaan hanya meminta para karyawan untuk bersabar.

Menurutnya, manajemen perusahaan menjelaskan bahwa kondisi arus kas berada di posisi negatif sehingga tidak memiliki likuiditas untuk membayar beban operasional rutin, termasuk gaji karyawan.

“Kita diskusi sama BOD, terutamanya memang tidak ada cash untuk dibayarkan. Kita disuruh sabar, disuruh bertahan. Nah ini kita di posisi karyawan sudah tidak bisa memikirkan lagi mau dari mana biaya hidup,” tutur dia.

Selain penunggakan gaji, Ahmad Ridwan juga menceritakan PT INTI telah melakukan sejumlah langkah efisiensi, salah satunya dengan perampingan karyawan yang berstatus kontrak.

Dia menuturkan, di PT INTI terdapat sekitar 350 orang karyawan tetap dan 400—500 karyawan kontrak. Adapun, dia mengatakan karyawan kontrak telah mulai diputus sejak tahun lalu.

“Dari setahun lalu mulai bertahap dikurangi-dikurangi. Karaywan tetap itu 350, yang kontrak itu 400—500. Jadi sudah mau habis lah sekarang,” ungkapnya.

Tak hanya itu, Ahmad Ridwan menyebut perusahaan juga mulai mengurangi berbagai fasilitas, seperti meniadakan subsidi dana kesehatan dan menghemat pengeluaran operasional seperti biaya gedung.

“Contohnya gini ya kita sekarang di kantor sudah nggak pakai AC, alasannya untuk efisiensi biaya ruangan,” tambahnya.

Ahmad Ridwan mengharapkan ada bantuan dari pemerintah untuk mengurai masalah di perseroan, khususnya Kementerian BUMN. Dia mengaku telah melakukan komunikasi intens dengan pihak kementerian sejak awal penungakkan gaji.

“Kita sudah komunikasi, lewat asdep [asisten deputi], lewat wamen. Infonya tadi dari sekretaris perusahaan pihak asdep sudah ngajak vidcall BOD untuk penyehatan, tapi kita belum tahu konkritnya akan seperti apa,” tukasnya.

Sementara itu, hingga berita ini ditulis pihak manajemen PT INTI belum memberikan komentar. Bisnis telah menghubungi sekretaris perusahaan PT INTI tapi belum mendapat respons kembali.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

serikat pekerja pt inti
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top