Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pekan Ini Naik 1,4 Persen, Bagaimana Proyeksi IHSG Pekan Depan?

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan terkonsolidasi pada pekan depan setelah dalam dua pekan terakhir mengalami tren kenaikan.
Rivki Maulana
Rivki Maulana - Bisnis.com 29 Agustus 2020  |  19:29 WIB
Karyawati beraktivitas di sekitar logo PT Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Kamis (4/6/2020). Bisnis - Arief Hermawan P
Karyawati beraktivitas di sekitar logo PT Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Kamis (4/6/2020). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencetak kenaikan 1,4 persen selama pekan ini, 24-28 Agustus 2020. Namun, pekan depan IHSG diproyeksi mengalami koreksi.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia,IHSG ditutup di posisi 5.346,65 pada Jumat (29/8/2020). Secara harian, IHSG melemah 0,46 persen. Namun, secara kumulatif indeks mampu mencetak kenaikan di atas 1 persen dan menempati posisi tertinggi di level 5.300 sejak 6 Maret 2020.

"Peningkatan tertinggi pekan ini terjadi pada rata-rata volume transaksi harian bursa sebesar 26,64 persen menjadi 15,085 miliar saham dari pekan lalu sebesar 11,912 miliar saham,' tulis BEI dalam keterangan resmi, Sabtu (29/8/2020).

Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan IHSG berpeluang terkonsolidasi dan cenderung melemah setelah penguatan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir. 

"Kami perkirakan IHSG akan bergerak dengan support di level 5.324 sampai 5.218 dan resistance di level 5.400 sampai 5.450," ujar Hans dalam keterangan resmi, Sabtu (29/8/2020).

Hans menjabarkan, ada beberapa sentimen yang akan mempengaruhi pergerakan IHSG pada pekan depan, mulai dari perubahan kebijakan bank sentral Amerika Serikat atau The Fed hingga perkembangan penanganan Covid-19 di dalam negeri.

Untuk diketahui, Gubernur The Fed telah menyampaikan arah kebijakan The Fed yang menargetkan inflasi 2 persen. Artinya, The Fed baru akan menaikkan tingkat suku bunga saat inflasi mencapai 2 persen.Hal ini memberikan sinyal rezim suku bunga rendah akan berlangsung lama karena sejak krisis 2008, inflasi AS sulit mencapai 2 persen.

"Pasar saham dan obligasi cenderung positif jangka panjang karena harapan bunga yang rendah dan stimulus yang terus diberikan dimasa yang akan datang bahkan ketika ekonomi sudah pulih dari pandemi Covid 19," jelas Hans.

Di sisi lain, ketegangan Amerika Serikat dan China terlihat belum akan berakhir. Setelah kedua Negara melanjutkan pembicaraan masalah perdagangan kedua Negara sekarang timbul masalah “hukuman” China terkait laut China Selatan. 

Masalah Laut China Selatan timbul setelah China melakukan uji coba peluru kendali di daerah tersebut. Sejumlah pejabat dan perusahaan China sudah dimasukkan dalam daftar hitam (blacklist) akibat dituduh terlibat dalam 'penumpukan' militer di wilayah perairan tersebut. 

"Hal ini sentimen negatif bagi pasar keuangan," tutur Hans.

Dari dalam negeri, Pemprov DKI Jakarta kembali melakukan perpanjangan PSBB transisi. Hal ini mendorong kemungkinan besar ekonomi Indonesia pada kuartal ketiga mengalami kontraksi dan memperbesar peluang resesi, yaitu kontraksi dua kuartal secara berturut-turut.

Menurut Hans, upaya pemerintah pusat mendorong pertumbuhan ekonomi di semester kedua sangat diapresiasi pelaku pasar keuangan. 

Pemerintah pusat agresif melakukan belanja pemerintah dan mengucurkan bantuan pada masyarakat dan UMKM, dunia usaha atau korporasi. Pemerintah juga akan kembali mendorong proyek infrastruktur di semester kedua ini. 

"Ini menimbulkan harapan pertumbuhan ekonomi di Kuartal ke 4 akan kembali positif," tukas Hans.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG Indeks BEI Kebijakan The Fed
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top