Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sudah 5 Emiten yang Say Goodbye ke Lantai Bursa, Siapa Menyusul?

Lima emiten yang sudah delisting adalah PT Cakra Mineral, PT Borneo Lumbung Energi & Metal, PT Leo Investment, PT Arpeni Pratama Ocean Line, dan PT Danayasa Arthatama.
Rivki Maulana
Rivki Maulana - Bisnis.com 29 Agustus 2020  |  14:19 WIB
Trader berjalan saat ticker menampilkan harga saham di dalam Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Indonesia. -  Dimas Ardian / Bloomberg
Trader berjalan saat ticker menampilkan harga saham di dalam Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Indonesia. - Dimas Ardian / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan persetujuan penghapusan pencatatan efek PT Cakra Mineral Tbk. (CKRA) mulai 28 Agustus 2020. Penghapusan itu menambah daftar emiten yang hengkang dari bursa sejak awal tahun

Penghapusan pencatatan efek atau delisting saham CKRA dilansir BEI lewat pengumuman No. Peng-DEL-00005/BEI.PP3/08-2020. Pengumuman itu merujuk pada pengumuman sebelumnya pada 4 Juni 2018 terkait delisting.

Perusahaan tercatat bisa didepak dari BEI bila memenuhi beberapa kriteria, mulai dari mengalami kondisi yang signifikan terhadap keberlangsungan usaha, hingga suspensi selama 24 bulan.

Dengan dicabutnya status perusahaan tercatat, CKRA tidak lagi memiliki kewajiban sebagai Perusahaan Tercatat. Tentu saja, BEI juga menghapus nama Perseroan dari daftar Perusahaan Tercatat yang mencatatkan sahamnya di BEI.

"Persetujuan penghapusan pencatatan Efek Perseroan ini tidak menghapuskan kewajiban-kewajiban yang belum dipenuhi oleh Perseroan kepada Bursa," tulis BEI dalam pengumuman yang dikutip Bisnis, Sabtu (29/8/2020).

Sebelum CKRA, total ada empat emiten yang juga sudah hengkang dari BEI, baik secara sukarela maupun dipaksa karena sudah tidak lagi memenuhi persyatan sebagai perusahaan tercatat.

Empat emiten yang sudah delisting dari lantai bursa adalah PT Borneo Lumbung Energi & Metal (20 Januari 2020), PT Leo Investment ( 23 Januari 2020), PT Arpeni Pratama Ocean Line (6 April 2020), dan PT Danayasa Arthatama (20 April 2020).

Data BEI menunjukkan, per 20 Agustus 2020 terdapat 28 emiten yang berpotensi delisting di luar keinginan sendiri atau sukarela. Puluhan emiten itu terancam delisting karena tidak kunjung lepas dari jerat suspensi.

Berdasarkan kegiatan usaha, sektor pertambangan minyak, gas, dan batu bara menjadi bidang usaha paling banyak terancam delisting. Kemudian disusul sektor properti.

Bila tidak kunjung membenahi kinerja dan memastikan keberlangsungan usaha, bukan tidak mungkin emiten-emiten tersebut akan didepak dari bursa karena sahamnya di suspensi hingga 24 bulan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa efek indonesia delisting aksi emiten
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top