Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sebulan Mager di Level US$40, Harga Minyak Merangkak Naik

Harga minyak juga tampak tengah menguji untuk menembus level resisten kuat US$42 per barel setelah berkutat di kisaran US$40 dalam satu bulan terakhir. 
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 11 Agustus 2020  |  18:11 WIB
Ilustrasi. Kapal tanker pengangkut minyak. - Bloomberg
Ilustrasi. Kapal tanker pengangkut minyak. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Optimisme tampaknya tengah memenuhi sentimen pasar minyak sehingga mendorong harga menguat dan mencoba untuk keluar dari level resisten atau batas atas kenaikan di level US$42 per barel.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Selasa (12/8/2020) hingga pukul 16.24 WIB harga minyak jenis WTI untuk kontrak September 2020 di bursa Nymex berada di level US$42,45 per barel, naik 1,22 persen.

Sementara itu, harga minyak jenis Brent untuk kontrak Oktober 2020 di bursa ICE naik 0,8 persen ke level US$45,38 per barel. Harga minyak berhasil melanjutkan penguatan dari perdagangan sebelumnya, setelah pada pekan lalu melemah selama tiga hari perdagangan berturut-turut. 

Adapun, harga minyak juga tampak tengah menguji untuk menembus level resisten kuat US$42 per barel setelah berkutat di kisaran level US$40 hingga US$42 per barel dalam satu bulan terakhir. Di sisi lain, sepanjang tahun berjalan 2020 harga minyak masih bergerak melemah 30 persen.

Tim Analis Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan bahwa komoditas emas hitam itu tengah mendapatkan banyak kekuatan untuk bergerak lebih tinggi pada perdagangan kali ini.

Presiden AS Donald Trump mengabarkan bahwa anggota kongres tinggi dari partai Demokrat AS, Nancy Pelosi dan Chuck Schumer, ingin bertemu dengannya untuk membahas kesepakatan stimulus ekonomi bantuan Covid-19.

Sentimen tersebut mendorong harga minyak mendapatkan harapan kembali bahwa stimulus akan segera tercapai, menopang prospek pemulihan ekonomi AS yang mengalami perlambatan di tengah terus bertambahnya kasus positif Covid-19 di Negeri Paman Sam itu.

Selain itu, peningkatan data ekonomi China, sebagai salah satu negara dengan ekonomi terbesar dunia, juga berhasil menopang penguatan harga minyak. Deflasi pabrik China mulai mereda pada Juli, didorong oleh kenaikan harga minyak global dan aktivitas industri yang naik kembali ke level sebelum pandemi Covid-19 menyebar. Hal itu pun menguatkan sinyal pemulihan ekonomi China.

“Harga minyak berpotensi naik menguji resisten US$42,65 - US$43 per barel bila optimisme stimulus berlanjut dan minyak berhasil menembus level US$42,45 per barel,” tulis Tim Riset Monex Investindo Futures seperti dikutip dari publikasi risetnya, Selasa (11/8/2020).

Namun, jika investor berfokus terhadap meningkatnya ketegangan hubungan AS dan China, harga minyak berpotensi melemah ke level US$41,85 per barel. Adapun, penembusan level itu akan mendorong minyak melemah menguji level support selanjutnya di US$41 hingga US$41,5 per barel.

Senada, Founder Vanda Insight Singapura Vandana Hari mengatakan bahwa ekspektasi berlanjutnya stimulus fiskal AS telah membantu kenaikan harga minyak karena sentimen itu menciptakan prospek negatif lebih lanjut bagi dolar AS.

Pada perdagangan Selasa (11/8/2020), indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang utama bergerak melemah 0,26 persen ke level 93,336. Greenback yang lebih lemah akan membuat minyak menjadi lebih murah bagi trader dengan denominasi mata uang lain.

“Namun, keuntungan lebih lanjut mungkin terbatas ke depan karena pemulihan konsumsi global semakin menunjukkan sinyal flat,” ujar Hari seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (11/8/2020)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak opec harga minyak mentah wti
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top