Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

​Dolar AS Unjuk Gigi, Laju Kenaikan Harga Emas Tertahan

Harga emas dan perak terkoreksi karena investor memburu aset safe haven lainnya yaitu dolar AS menjelang rilis data upah di Negeri Paman Sam.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 07 Agustus 2020  |  17:17 WIB
Karyawati menunjukkan replika logam mulia di Butik Emas Antam, Jakarta, Kamis (6/8/2020). Bisnis - Arief Hermawan P
Karyawati menunjukkan replika logam mulia di Butik Emas Antam, Jakarta, Kamis (6/8/2020). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA — Penguatan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) sedikit mengerem laju kenaikan harga emas menuju rekor tertingginya. Dalam harga emas telah memecahkan rekor beberapa kali dan membuat banderol logam mulia tersebut kianmahal.

Dolar AS menguat untuk pertama kalinya dalam empat sesi di tengah-tengah memburuknya hubungan antara Washington dan Beijing. Mengutip data Bloomberg, indeks dolar yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama dunia menguat 0,37 persen ke level 93.128 pada Jumat (7/8/2020) pukul 16.35 WIB.

Sementara itu, harga emas spot turun 0,15 persen ke level US$2.060 per troy ounce setelah sempat menyentuh rekor US$2.075 per troy ounce. Selanjutnya, harga perak spot turun 1,8 persen menjadi US$28,41 per ons setelah sempat menguat hingga ke US$29,85 per troy ounce.

Senior Market Analyst Asia Pacific Oanda Corp. Jeffrey Halley menjelaskan bahwa harga emas dan perak terkoreksi karena investor memburu aset safe haven lainnya yaitu dolar AS menjelang rilis data upah di Negeri Paman Sam.

Selain itu, perintah eksekutif Presiden AS Donald Trump yang melarang perusahaan negaranya bertransaksi dengan perusahaan teknologi asal China juga menguatkan indeks dolar.“Emas dan perak menghadapi tantangan sesuai karakter masing-masing,” kata Halley seperti dikutip Bloomberg, Jumat (7/8/2020).

Walau melemah, emas telah menguat lebih dari 35 persen pada tahun ini atau penguatan tahunan terbesar selama empat dekade terakhir. Lambungan harga emas terjadi karena krisis kesehatan, suku bunga riil negatif, pelemahan indeks dolar AS, dan peningkatan tensi geopolitik.

Bank of America Corp. memperkirakan kenaikan harga emas masih akan berlanjut dan mungkin sekali menyentuh US$3.000 per troy ounce dalam 18 bulan ke depan. Selanjutnya, harga perak diperkirakan bisa menguji level US$35 per troy ounce pada 2021.

Saat ini, fokus investor akan mengarah ke laporan tenaga kerja bulanan di AS yang diperkirakan turun dibandingkan bulan berikutnya akibat Covid-19.

“Banyak sekali noise di angka-angka makro ekonomi AS saat ini. Saat ini pasar harus melihat lebih jangka panjang,” kata Head of Market Analysis for EMEA and Asia di StoneX Group Inc. Rhona O’Connell.

Apabila data ketenagakerjaan di AS tampil lebih baik daripada perkiraan, dirinya memperkirakan harga emas dan perak akan melanjutkan koreksi dalam waktu dekat. Dari Eropa, prospek ekonomi Jerman yang mulai membaik juga disebut akan menambah tekanan terhadap harga emas.

Adapun, hasil produksi dari ekonomi terbesar di Eropa tersebut menunjukkan perbaikan pada Juni yang diwakili oleh permintaan pabrik berada pada posisi 90,7 persen dari level akhir tahun lalu.

Kendati demikian, Gubernur Bank Sentral Eropa (ECB) Philip Lane menolak untuk optimistis dengan cepat. Dirinya menyebut performa ekonomi Benua Biru pada kuartal III/2020 yang lebih pas untuk menjadi kunci prakiraan pemulihan ekonomi yang berkelanjutan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Emas Hari Ini dolar as harga emas comex
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top