Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Goldman Sachs: Dolar AS Terancam Hilang Status Mata Uang Cadangan Dunia

Goldman Sachs Group memperingatkan bahwa dolar Amerika Serikat (AS) terancam kehilangan statusnya sebagai mata uang cadangan dunia.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 29 Juli 2020  |  09:44 WIB
Goldman Sachs. - Bloomberg
Goldman Sachs. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Goldman Sachs Group memperingatkan bahwa dolar Amerika Serikat (AS) terancam kehilangan statusnya sebagai mata uang cadangan dunia.

Kongres AS mendorong putaran stimulus fiskal lebih lanjut untuk menopang perekonomian yang telah digerogoti pandemi Covid-19, sementara bank sentral Federal Reserve AS telah menggelembungkan neraca keuangannya sebesar sekitar US$2,8 triliun tahun ini.

Dengan latar belakang kondisi tersebut, ahli strategi Goldman memperingatkan bahwa kebijakan Amerika memicu kekhawatiran atas penurunan nilai mata uang yang dapat mengakhiri cengkeraman dolar AS sebagai kekuatan dominan di pasar valuta asing global.

Kendati pandangan ini masih relatif minor dalam sebagian besar lingkup finansial keuangan, dan analis Goldman tidak mengutarakan keyakinan mereka, kemungkinan itu mengindikasikan kegelisahan di dalam pasar bulan ini.

Banyak investor, yang khawatir bahwa langkah pencetakan uang akan memicu inflasi di tahun-tahun mendatang, telah keluar dari dolar dan ramai-ramai memburu emas.

"Emas adalah mata uang pilihan terakhir, terutama di lingkungan seperti saat ini dimana banyak pemerintah negara menurunkan nilai mata uang mereka dan mendorong suku bunga riil ke posisi terendah sepanjang masa,” terang ahli strategi Goldman dalam laporan terbaru.

“Kini ada kekhawatiran nyata seputar kelangsungan dolar AS sebagai mata uang cadangan,” tambahnya, dilansir dari Bloomberg, Rabu (29/7/2020).

Laporan Goldman menjelaskan bahwa keengganan Wall Street untuk membunyikan alarm mengenai inflasi ketika pandemi dimulai telah memudar.

Mengingat proyeksi tentang kenaikan harga yang tak terkendali setelah stimulus fiskal dan moneter yang mengikuti krisis keuangan 2008, banyak analis ragu-ragu untuk mengulangi seruan itu saat ini, terutama karena ekonomi tenggelam ke dalam resesi yang dalam.

Namun, dengan harga emas melonjak ke rekor level tertinggi dan ekspektasi inflasi investor obligasi naik hampir setiap hari, meskipun dari tingkat yang sangat rendah, perdebatan tentang efek jangka panjang dari stimulus semakin kencang.

Menambah tekanan pada ekspektasi inflasi adalah perkiraan bahwa The Fed akan segera mengaitkan panduan mengenai kebijakan suku bunga dengan harga. Ini akan memberi setidaknya beberapa ruang sementara untuk inflasi berjalan di atas target 2 persen The Fed.

“Perluasan neraca dan penciptaan uang yang besar memacu kekhawatiran atas penurunan nilai mata uang. Ini menciptakan kemungkinan yang lebih besar bahwa pada suatu waktu di masa depan, setelah kegiatan ekonomi telah normal, akan ada insentif bagi bank sentral dan pemerintah untuk memungkinkan inflasi melayang lebih tinggi guna mengurangi akumulasi beban utang,” lanjut Goldman.

Rekor harga emas menyoroti kekhawatiran yang berkembang terhadap ekonomi dunia. Goldman menaikkan proyeksi 12 bulan untuk emas menjadi US$2.300 per troy ounce dari US$2000 per ounce sebelumnya.

Adapun, suku bunga riil AS diramal terus melayang lebih rendah, sehingga akan mendorong emas naik lebih lanjut.

Sementara itu, Bloomberg Dollar Spot Index berada di jalur untuk mencatat kinerja bulan Juli terburuk dalam satu dekade. Dolar AS digunakan dalam 88 persen dari seluruh perdagangan mata uang, menurut survei Bank for International Settlements.

Dolar AS juga masih menyumbang sekitar 62 persen dari cadangan devisa dunia, meskipun turun dari puncaknya sebesar lebih dari 85 persen pada tahun 1970-an, menurut data Dana Moneter Internasional (IMF).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dolar as goldman sachs

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top