Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ini 4 Alasan Mengapa Pasar Obligasi Indonesia Segera Dibanjiri Investor Asing

Imbal hasil obligasi Indonesia kemungkinan akan kembali mendekati level pada Februari sebelum pandemi masuk.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 10 Juli 2020  |  11:37 WIB
Pialang memperhatikan Yield SUN Indonesia - Antara/Prasetyo Utomo
Pialang memperhatikan Yield SUN Indonesia - Antara/Prasetyo Utomo

Bisnis.com, JAKARTA - Pasar obligasi Indonesia mulai dibanjiri sentimen positif yang berpotensi membuat aset keuangan ini kembali diminati asing setelah diperdagangkan di kisaran yang cenderung stagnan dalam sebulan terakhir.

Sejumlah pihak melihat surat utang Indonesia dapat memikat investor seiring dengan turunnya biaya lindung nilai, serta tingkat kupon yang masih menarik. Pada saat yang sama, kekhawatiran bahwa potensi peningkatan jumlah uang beredar yang akan menyebabkan rupiah melemah tampaknya berlebihan.

Berikut ini, empat alasan mengapa pasar obligasi Indonesia akan kembali bergeliat:

1. Biaya Lindung Nilai

Investor riil yang membeli obligasi Indonesia tanpa memperhatikan volatilitas rupiah dibuat panik setelah biaya lindung nilai aset keuangan Tanah Air melonjak di tengah wabah virus Corona.

Namun, pasar kini mulai melihat ada tanda-tanda stabilitas rupiah karena investor yang mulai optimistis terkait dengan dampak jangka panjang dari pandemi Covid-19 ini.

Imbal hasil obligasi Indonesia kemungkinan akan kembali mendekati level pada Februari sebelum pandemi masuk. Hal ini akan mengurangi biaya lindung nilai dan menarik kembali lebih banyak pembeli surat utang dari luar negeri. 

2. Imbal Hasil Atraktif

Imbal hasil surat utang Indonesia merupakan yang tertinggi di Asia sehingga membuat pasar surat utang Tanah Air menarik. Surat utang bertenor 10 tahun memiliki imbal hasil yang mendekati 650 basis poin.

Bank Indonesia (BI) tampak sangat sadar bahwa pemangkasan suku bunga secara agresif akan berisiko mendorong imbal hasil obligasi terlalu rendah dan menghalangi investor asing.

Ini mungkin menjadi salah satu alasan respons BI yang relatif lemah terhadap krisis dengan hanya memangkas suku bunga acuannya sebesar 75 basis poin tahun ini, dibandingkan dengan 125 basis poin di Malaysia dan 175 basis poin di Filipina.

3. Posisi Positif

Dana asing yang kabur dari pasar obligasi Indonesia mencapai US$8,6 miliar pada kuartal I/2020 akibat pandemi Covid-19. Pada kuartal kedua ini, aliran dana asing mulai masuk. Namun, jumlahnya baru mencapai US$1,2 miliar hingga saat ini.

Perbedaan aliran tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki banyak ruang bagi dana asing untuk meningkatkan kepemilikan mereka.

4. Pasokan Uang

Meskipun keputusan BI untuk memulai pembelian obligasi langsung meningkatkan kerentanan terhadap rupiah, Indonesia masih dalam posisi yang lebih menguntungkan dalam hal mata uangnya dibandingkan beberapa negara lain di kawasan.

Dengan asumsi rencana monetisasi utang US$40 miliar atau sekitar Rp397 triliun, maka jumlah uang beredar akan meningkat dengan jumlah yang sama.

Kondisi ini akan menyebabkan penurunan rasio cadangan devisa terhadap M2 menjadi sekitar 27 persen dari 30 persen sebelumnya.

Negara-negara berkembang dengan cadangan devisa kurang dari 30 persen dari pasokan uang menghadapi risiko pelarian modal yang lebih besar, menurut catatan Bloomberg Intelligence.

Meskipun demikian - bahkan setelah mempertimbangkan langkah pembiayaan moneter terbaru Indonesia - rasio cadangan devisa terhadap M2 Indonesia masih lebih baik daripada Malaysia, China dan Korea Selatan, yang semuanya masuk pada kisaran 22 persen atau lebih rendah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi investor asing

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top