Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kasus Baru Covid-19 Terus Bertambah, Rebound Bursa AS Tertahan

Beberapa negara bagian di AS melaporkan kasus baru Covid-19, jumlahnya terus meningkat sejak 9 Mei 2020. Sentimen ini membuat ekspektasi rebound di bursa saham tertahan. Sebelumnya indeks S&P 500 telah mengalami kenaikan kuartalan terbesar sejak 1950.
Rivki Maulana
Rivki Maulana - Bisnis.com 03 Juli 2020  |  21:46 WIB
Pedagang bekerja di lantai bursa New York Stock Exchange. -  Michael Nagle / Bloomberg
Pedagang bekerja di lantai bursa New York Stock Exchange. - Michael Nagle / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Bursa Amerika Serikat (AS) dibuka menguat seiring sentimen positif dari data tenaga kerja yang melampaui ekspektasi. Namun, kekhawatiran akan gelombang kedua penyebaran virus corona (Covid-19) telah membatasi ruang kenaikan.

Dilansir dari Bloomberg, indeks S&P 500 keluar dari sesi tertinggi di saat volume perdagangan turun menjelang liburan. Hari ini, bursa AS tutup menjelang Hari Kemerdekaan AS 4 Juli 2020.

Kemarin, Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 0,36 persen atau 92,39 poin ke 25.827,36, sedangkan indeks S&P 500 menguat 14,15 poin atau 0,45 persen ke level 3.130,01 dan Nasdaq Composite menguat 53 poin, atau 0,52 persen ke 10.207,63.

Hampir di saat bersamaan, jumlah kasus infeksi Covid-19 tercatat mengalami kenaikan terbesar sejak 9 Mei 2020. Sentimen itu mengimbangi data tenaga kerja yang  melampaui ekspektasi yang mana payroll atau jumlah tenaga kerja naik 4,8 juta pada bulan Juni 2020.

"Memasuki long weekend, mengapa memiliki posisi bullish yang ekstrem?" ungkap kepala strategi untuk AS di Ned Davis Research, Ed Clissold, seperti dikutip Bloomberg.

Pasar tenaga kerja AS membuat kemajuan lebih besar dari yang diperkirakan bulan lalu. Namun optimisme atas rebound di pasar saham tertahan oleh angka PHK yang tinggi dan gelombang kedua penyebaran virus.

Presiden Donald Trump masih mengatakan laporan tersebut menunjukkan ekonomi sedang "meraung kembali." Stimulus kebijakan moneter dan fiskal besar-besaran membantu menurunkan suku bunga dan menjaga likuiditas sistem keuangan di masa sulit.

"Masih ada sentimen positif umum mengenai seberapa cepat pemulihan terjadi. Tetapi kami pikir pemulihan cenderung lambat, terutama jika melihat jumlah kasus virus corona terus meningkat,” presiden pasar global di TIAA Bank, Chris Gaffney.

Bursa saham AS siap merangkak naik di kuartal ketiga jika merujuk pada data historis. Kepala Strategi SunTrust Private Wealth Management Keith Lerner mengatakan indeks S&P 500 telah mengalami kenaikan kuartalan terbesar sejak 1950. 

Imbal hasil dari indeks saham tersebut berkisar 15 persen s.d 22 persen, sejalan dengan kenaikan 2 persen di kuartal II/2020 lalu. Data menunjukan, indeks S&P selalu mencetak di kuartal berikutnya.

Berikut perkembangan pasar keuangan dunia :

Saham

  • Indeks Stoxx Europe naik 0,5 persen
  • MSCI Asia Pacific naik 1,7 persen

Mata Uang

  • Indeks Spot Dollar Bloomberg turun 0,1 persen
  • Euro turun 0,1 persen menjadi US$1.124
  • Yen jepang turun 0,1 persen menjadi US$107,53 per dolar

Obligasi

  • Imbal hasil 10 tahun obligasi AS turun 1 basis poin ke 0,67 persen
  • Imbal hasil 10 tahun obligasi Jerman turun 3 basis poin ke -0,43 persen

Komoditas

  • Minyak mentah WTI naik 1,2 persen ke posisi US$40,29 per barel
  • Emas naik 0,5 persen ke level US$1.788,30 per troy ounce.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

wall street covid-19

Sumber : Bloomberg

Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top