Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bursa AS Tumbang di antara Kasus Baru Covid-19 dan Tensi AS-Uni Eropa

Bursa saham Amerika Serikat anjlok lebih dari 2 persen pada akhir perdagangan Rabu (24/6/2020), di tengah kekhawatiran soal lonjakan kasus baru Covid-19 dan bangkitnya tensi dagang AS-Uni Eropa.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 25 Juni 2020  |  05:46 WIB
Pedagang bekerja di lantai bursa New York Stock Exchange. - Michael Nagle / Bloomberg
Pedagang bekerja di lantai bursa New York Stock Exchange. - Michael Nagle / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat anjlok lebih dari 2 persen pada akhir perdagangan Rabu (24/6/2020), di tengah kekhawatiran soal lonjakan kasus baru Covid-19 dan bangkitnya tensi dagang AS-Uni Eropa.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks S&P 500 berakhir terjerembap 2,59 persen atau 80,96 poin ke level 3.050,33, mematahkan kenaikan yang mampu dibukukan dua hari perdagangan berturut-turut sebelumnya.

Sejalan dengan S&P, indeks Dow Jones Industrial Average jeblok 2,72 persen atau 710,16 poin ke level 25.445,94 dan indeks Nasdaq Composite ditutup merosot 2,19 persen atau 222,20 poin ke posisi 9.909,17.

Seluruh 11 sektor dalam S&P 500 tenggelam setidaknya 0,9 persen, dengan saham sektor energi, finansial dan industri turun lebih dari 3 persen setelah data menunjukkan Florida dan California mencatat rekor angka kasus baru Covid-19 secara harian.

Sementara itu, Houston mengatakan tempat tidur di unit perawatan intensifnya mencapai kapasitas 97 persen.

Saham perusahaan travel dan lainnya yang telah naik di tengah optimisme pembukaan kembali (reopening) terpukul ketika New York, New Jersey, dan Connecticut mengharuskan pendatang dari sejumlah hot spot Covid-19 untuk melakukan karantina mandiri.

Bahkan indeks Nasdaq Composite yang mampu mencetak rekor baru pada perdagangan Selasa (24/6/2020) akhirnya tumbang, untuk pertama kalinya dalam sembilan sesi perdagangan.

“Ketika kita melihat kasus-kasus ini terus menyebar, kita melihat kontraksi mikro di negara-negara bagian tersebut,” ujar Presiden dan CEO Creative Planning Peter Mallouk, seperti dilansir dari Bloomberg.

“Pasar pada dasarnya melihat ke depan dan berkata 'Momentumnya tampak kembali dan tidak ada yang mengindikasi jalan untuk memperlambat momentum itu',” tambahnya.

Sentimen pasar dengan cepat berubah menjadi lebih negatif karena kekhawatiran bahwa penyebaran baru Covid-19 dapat memaksa para pembuat kebijakan untuk memperlambat langkah mereka atau bahkan memutarbalik rencana reopening ekonomi.

Pada saat yang sama, potensi ketegangan perdagangan muncul kembali antara Uni Eropa dan AS. Gedung Putih tengah mempertimbangkan tarif baru pada ekspor senilai US$3,1 miliar dari Prancis, Jerman, Spanyol, dan Inggris.

Perwakilan Perdagangan Amerika ingin mengenakan tarif baru pada ekspor Eropa seperti zaitun, bir, gin, dan truk, sementara meningkatkan bea pada produk-produk seperti pesawat, keju dan yogurt, menurut pemberitahuan yang dipublikasikan pada Selasa (23/6/2020) malam waktu setempat.

Di sisi lain, Uni Eropa juga memperdebatkan mengenai apakah akan tetap menutup akses untuk pelancong dari Amerika musim panas ini.

Sementara itu, Dana Moneter Internasional (IMF) menurunkan prospek untuk ekonomi global, dengan memproyeksikan resesi yang jauh lebih dalam dan pemulihan yang lebih lambat daripada yang diantisipasi hanya dua bulan lalu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa as wall street tarif impor
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top