Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Wow! Rupiah Diprediksi Menguat Lebih Cepat dari Perkiraan Gubernur BI

Rupiah diperkirakan bakal menguat ke level Rp14.800 sampai dengan Rp14.540, lebih cepat dari yang diperkirakan Bank Indonesia.
Pegawai bank menata uang dolar di kantor cabang bank Mandiri Syariah di Jakarta, Senin (20/4/2020). Bisnis/Abdurachman
Pegawai bank menata uang dolar di kantor cabang bank Mandiri Syariah di Jakarta, Senin (20/4/2020). Bisnis/Abdurachman

Bisnis.com, JAKARTA - Rupiah diperkirakan bakal menguat ke level Rp14.800 sampai dengan Rp14.540, lebih cepat dari yang diperkirakan Bank Indonesia.

Pada awal April, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memperkirakan nilai tukar rupiah dapat mencapai level Rp15.000 per dolar AS pada akhir 2020.

Menurut Perry nilai tukar rupiah masih cenderung undervalue mengigat secara fundamental inflasi masih terkendali, baik itu  defisit transaksi berjalan maupun perbedaan suku bunga dalam dan luar negeri,

Hal tersebut juga menunjukkan keyakinan BI bahwa nilai tukar rupiah dapat bergerak stabil ke arah Rp15.000 per dolar AS di akhir tahun.

Ternyata rupiah menguat lebih cepat. Pada perdagangan terakhir di bulan April, Kamis (30/4/2020), rupiah sudah menyentuh Rp14.881 atau menguat 413 poin.

Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Suabi mengatakan rupiah masih akan melanjutkan penguatan pada perdagangan pekan depan.

Menurutnya, mata uang nasional itu akan menguji level Rp14.800 sampai dengan Rp14.540.

“Dalam perdagangan Minggu depan rupiah kemungkinan akan dibuka melemah tetapi ditutup menguat tipis dalam rentang Rp14.800 sampai Rp14.540,” katanya, Sabtu (2/5/2020).

Menurut Ibrahim penguatan ditopang oleh fundamental ekonomi Indonesia yang telah teruji dan begitu kokoh pascadata ekonomi eksternal positif membawa angin segar bagi investasi di pasar valas dan obligasi. 

Selain itu, pemerintah dan Bank Indonesia berhasil menyelamatkan perekonomian berkat strategi bauran yang diterapkan bersama-sama sehingga bisa menenangkan pasar, ditambah lagi dengan penerbitan global bond.

“Di sinilah titik balik pelaku pasar kembali percaya terhadap pasar dalam negeri sehingga wajar kalau arus modal asing kembali,” ungkapnya.

Ekonom PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C. Permana mengatakan selama sebulan terakhir pergerakan rupiah dipengaruhi beberapa hal antara lain jumlah orang yang terpapar Covid-19 baik di Indonesia dan global serta stimulus global dan domestik.

Menurutnya desifit CAD yang berada di bawah 2 persen serta kemungkinan pertumbuhan ekonomi dalam negeri di kuartal I/2020 yang dapat berada di antara 3,5 - 4 persen telah menopang penguatan rupiah. “Tampaknya ini memberi harapan besar ke fundamental rupiah,” imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Pandu Gumilar
Editor : Saeno

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper