Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Hari ke-4 PSBB Jakarta, Transaksi Bursa Sentuh Level Terendah April 2020  

Transaksi saham terbilang rendah karena investor masih tengah wait and see dan menunggu data yang diperlukan untuk pengambilan keputusan selanjutnya.
Pengunjung berjalan melintasi papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham di Bursa Efek Indonesia, di Jakarta, Senin (13/4/2020). Bisnis/Dedi Gunawan
Pengunjung berjalan melintasi papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham di Bursa Efek Indonesia, di Jakarta, Senin (13/4/2020). Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com,JAKARTA — Transaksi saham pada perdagangan Senin (13/4/2020) tercatat yang paling rendah sepanjang periode berjalan April 2020. Transaksi saham mencakup transaksi di pasar reguler, tunai, dan negosiasi.

Pada perdagangan hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 0,54 persen atau 25,185 poin ke level 4.623.894. Pada sesi tersebut, sebanyak 199 saham menguat, 207 mengalami koreksi, dan 148 stagnan.

Total nilai transaksi di pasar reguler, tunai, dan negosiasi senilai Rp5,54 triliun pada akhir penutupan, Senin (13/4/2020), atau menjadi yang terendah sepanjang April 2020. 

Sepanjang April 2020, nilai total nilai transaksi tertinggi terjadi pada, Selasa (7/4/2020). Saat itu, transaksi di pasar reguler, tunai, dan negosiasi mencapai Rp9,59 triliun.

Di sisi lain, investor asing tercatat mencetak net buy atau beli bersih senilai Rp321,49 miliar sepanjang sesi, Senin (13/4/2020). Namun, investor asing masih tercatat net sell secara year to date periode 2020 senilai Rp12,34 triliun.

Sektor saham infrastruktur menjadi penahan koreksi IHSG dengan penguatan 1,86 persen. Sebaliknya, sektor saham aneka industri terkoreksi paling dalam sebesar 2,21 persen.

Head of Equity Trading MNC Sekuritas Medan Frankie Wijoyo Prasetio menilai transaksi yang terjadi pada, Senin (13/4/2020), sangat sedikit. Menurutnya, saham blue chip yang biasanya menjadi penggerak indeks dapat dikatakan sangat datar sepanjang sesi perdagangan.

“Saham yang naik malah kebanyakan adalah saham dengan market cap yang kecil sehingga transaksi yang terjadi juga tidak banyak,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (13/4/2020).

Frankie mengatakan investor saat ini investor tengah wait and see dan menunggu data yang diperlukan untuk pengambilan keputusan selanjutnya. Salah satunya terkait laporan keuangan kuartal I/2020.

“Serta data penularan dan tes dengan skala yang lebih besar kepada COVID-19 di Indonesia akan menjadi katalis untuk pergerakan indeks tahap selanjutnya,” paparnya.

Kendati demikian, dia menyoroti larisnya obligasi global atau global bond Indonesia senilai US$4,3 miliar membantu kepercayaan investor terhadap Indonesia. Langkah yang ditempuh pemerintah dinilai menjaga downside IHSG dan menambah kekuatan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Janson Nasrial, SVP Research Kanaka Hita Solvera menilai sepinya transaksi akibat katalis dari emiten untuk proyeksi kuartal I/2020 belum terlihat. Selain itu, data pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartal I/2020 belum dikeluarkan serta belum melandainya kurva kasus baru penyebaran COVID-19 di Indonesia.

“Itu yang membuat IHSG gamang untuk bergerak menembus ke 5.300, yang membuat kemungkinan besar IHSG menuju support 4.200-an cukup besar. Jadi, investor cenderung sangat wait and see,” imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Rivki Maulana
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper