Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

PSBB Jakarta & Profit Taking Bayangi Laju IHSG, Sampai Kapan?

Indeks harga saham gabungan kembali mendarat di zona merah dengan koreksi 3,18 persen atau 151,944 poin ke level 4.626,695 pada akhir perdagangan, Rabu (8/4/2020).
Karyawan melintasi layar monitor perdagangan Indeks Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (17/2/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Karyawan melintasi layar monitor perdagangan Indeks Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (17/2/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Penerapan pembatasan sosial berskala besar dan aksi profit taking para investor masih akan mewarnai laju pergerakan indeks harga saham gabungan.

Indeks harga saham gabungan kembali mendarat di zona merah dengan koreksi 3,18 persen atau 151,944 poin ke level 4.626,695 pada akhir perdagangan, Rabu (8/4/2020). Sepanjang sesi, hanya 81 saham yang menguat sementara sisanya 335 memerah serta 117 stagnan.

Total nilai transaksi saham di pasar reguler, tunai, dan negosiasi juga ambles dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan total nilai transaksi Rp6,12 triliun pada, Rabu (8/4/2020).

Total nilai transaksi itu menjadi yang terendah sepanjang perdagangan April 2020. Pada Selasa (7/4/2020), transaksi di pasar reguler, tunai, dan negosiasi mencapai Rp9,59 triliun.

Sementara itu, investor asing mencetak jual bersih atau net sell senilai Rp329,23 miliar pada, Rabu (8/4/2020). Sepanjang periode berjalan, total net sell asing sebanyak Rp12,15 triliun.

William Hartanto, Technical Analyst Panin Sekuritas menjelaskan bahwa secara teknikal IHSG menurun kembali karena gagal menembus resistance 4.811. Hal itu menurutnya mengindikasikan terjadi profit taking.

Terkait dengan sentimen penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Jakarta mulai 10 Maret 2020, William menyebut aturan itu memang mengancam beberapa bisnis. Akan tetapi, kebijakan itu dibutuhkan untuk menyelesaikan penyebaran COVID-19.

Janson Nasrial, SVP Research Kanaka Hita Solvera mengatakan PSBB merupakan apropriate policy response dibandingkan dengan fiskal insentif dan kebijakan kelonggaran moneter. Pasalnya, Indonesia memiliki keterbatasan dalam dua kebijakan tersebut.

Dengan adanya PSBB, lanjut dia, penyebaran COVID-19 akan terbatas. Respons kebijakan itu menurutnya sangat layak untuk diimplementasikan.

“Satu-satunya katalis positif untuk IHSG adalah flat curve of new case COVID-19 di Indonesia dan menurunnya rasio kematian. Jadi, PSBB adalah langkah yang tepat,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (8/4/2020).

Janson menilai penurunan IHSG memang tengah dalam momentum penurunan. Secara teknikal, indeks berada dalam kondisi overbought padahal dampak penurunan earnings per share (EPS) growth kuartal II/2020 berlum terukur.

“Selama IHSG masih dibawah 5.300, IHSG rentan koreksi lagi ke area support 4.200, sooner or later tapi itu pun dengan catatan disiplin social distancing berhasil diterapkan untuk meminimalisasi atau memutus mata rantai COVID-19,” tuturnya.

Di lain pihak, Head of Equity Trading MNC Sekuritas Medan Frankie Wijoyo Prasetio mengatakan tidak dapat dipungkiri keputusan PSBB untuk wilayah Jakarta mempengaruhi laju IHSG. Kemarin, saat bursa regional kompak menguat, Indonesia malah mengalami penurunan.

“Tentunya adanya PSBB akan berdampak terhadap penghasilan masyarakat dan perusahaan. Akan tetapi, seharusnya dampaknya tidaklah terlalu besar dan akan menjadi short term effect,” jelasnya.

Frankie menyebut saat ini investor juga sedang mencermati laporan keuangan kuartal I/2020. Hal itu untuk menilai dampak ekonomi terhadap perseroan yang ditimbulkan oleh penyebaran COVID-19.

Dia menambahkan institusi asing tengah melakukan massive risk off mode. Akibatnya, terjadi penjualan terhadap assets on emerging market yang dialihkan ke safe haven instruments.

Sementara itu, Vice President Research Artha Sekuritas Frederik Rasali memproyeksikan tren jangka panjang IHSG masih belum mengalami kenaikan. Fluktuasi pergerakan indeks menurutnya masih akan terjadi.

“Sentimen terhadap PSBB dan perkembangan dari pandemik COVID-19 global masih dominan,” jelasnya.

Frederik menyebut langkah penerapan PSBB dinilai investor sebagai langkah yang lebih ketat dalam menindaklanjuti penyebaran COVID-19. Kondisi itu akan membuat sejumlah sektor seperti ritel dan informal mulai mengalami tekanan.

Dari sisi global, dia menyebut belum banyak perkembangan atas penanganan COVID-19. Selain itu, dampak ekonomi secara global akan mulai lebih terlihat pada kuartal II/2020.

“Sehingga investor akan lebih berhati-hati,” paparnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper