Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bursa AS 'Girang' Menyambut RUU Stimulus Atasi Virus Corona

Kabar positif datang dari Washington yang menciptakan sedikit sentimen positif di seluruh pasar dan direspon hijau oleh bursa saham Amerika Serikat.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 24 Maret 2020  |  22:03 WIB
Pedagang bekerja di lantai bursa New York Stock Exchange. - Michael Nagle / Bloomberg
Pedagang bekerja di lantai bursa New York Stock Exchange. - Michael Nagle / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat bangkit ke zona hijau dan langsung melonjak lebih dari 5 persen pada awal perdagangan hari ini, Selasa (24/3/2020), didorong kembalinya minat investor untuk aset-aset berisiko.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks S&P 500 naik tajam 5,7 persen pada pukul 9.50 pagi waktu New York. Pada saat yang sama, indeks Stoxx Europe 600 menanjak 5,6 persen dan indeks MSCI Asia Pacific melonjak 5 persen.

Para senator di Kongres AS saat ini dikabarkan tengah merundingkan poin-poin final dalam rancangan undang-undang (RUU) stimulus bernilai sekitar US$2 triliun guna membantu ekonomi AS melalui pandemi virus corona (Covid-19).

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Nancy Pelosi mengatakan dia berharap kesepakatan terkait RUU tersebut dapat dicapai pada hari ini waktu setempat.

“Tanda-tanda kabar positif apapun yang datang dari Washington atau pihak yang berbeda menciptakan sedikit sentimen positif di seluruh pasar,” ujar Peter Essele, kepala manajemen portofolio untuk Commonwealth Financial Network, seperti dilansir Bloomberg.

Di sisi lain, dolar AS merosot terhadap mata uang negara maju dan berkembang, mematahkan reli penguatan beruntun terpanjangnya sejak 2012.

Nasib dolar AS berubah drastis setelah bank sentral Federal Reserve AS mengumumkan stimulus terbaru, yang mendorong pelaku pasar memburu aset-aset berisiko dan melepaskan greenback.

Pada Senin (23/3/2020), The Fed mengumumkan gelombang inisiatif kedua bernilai besar-besaran untuk mendukung perekonomian AS.

Inisiatif yang dimaksud mencakup pembelian obligasi dalam jumlah tak terbatas guna menjaga biaya pinjaman tetap rendah serta menyiapkan program-program guna memastikan aliran kredit ke perusahaan-perusahaan juga pemerintah negara bagian dan lokal.

The Fed menyebutkan akan membeli obligasi Treasury dan surat berharga berbasis mortgage yang dikeluarkan badan pemerintah (agency mortgage-backed securities/MBS).

Baik obligasi Treasury dan agency MBS akan dibeli dalam jumlah yang dibutuhkan untuk mendukung kelancaran fungsi pasar dan transmisi kebijakan moneter yang efektif ke kondisi keuangan dan ekonomi yang lebih luas.

Namun, langkah dari sisi fiskal masih mandek. Kongres AS sejauh ini belum juga menemukan kesepakatan yang menuntaskan perbedaan pandangan kubu Demokrat dan Republik di dalamnya terkait RUU stimulus.

Sementara itu, aktivitas sektor manufaktur dan jasa AS untuk Maret dilaporkan mencatat kontraksi tajam. Fakta ini mengindikasikan mendalamnya dampak dari pandemi corona.

“Sentimen telah membaik, tetapi menyebutnya titik balik adalah kata yang terlalu kuat untuk saat ini,” ungkap James McCormick dari NatWest Markets.

“Situasi ini lebih serupa tarik tambang. Bazooka kebijakan sudah ada, tetapi akan berjuang melawan data yang sangat lemah dan tren yang masih mengkhawatirkan tentang data Covid-19. Kami lebih dalam posisi netral untuk aset berisiko saat ini,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

wall street covid-19
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top