Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Pelita Samudera (PSSI) Catatkan Pertumbuhan Laba 44 Persen

Sekretaris Perusahaan PT Pelita Samudera Shipping Imelda Agustina Kiagoes mengatakan, total laba bersih US$11,3 juta.
Logo Emiten PSSI
Logo Emiten PSSI

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten pelayaran PT Pelita Samudera Shipping Tbk membukukan laba bersih sebesar US$11,3 juta atau kenaikan sebesar 44 persen dari US$7,9 juta di 2018.

Sekretaris Perusahaan PT Pelita Samudera Shipping Imelda Agustina Kiagoes mengatakan, total laba bersih US$11,3 juta. Dengan peningkatan keunggulan operasional, pengendalian biaya dan efisiensi serta strategi ekspansi armada, pencapaian marjin laba bersih tercatat sebesar 18 persen.

Pada sektor pendapatan lain-lain di 2018, terdapat keuntungan penjualan 1 unit Fasilitas Muatan Apung (FLF) sebesar US$7,6 juta. Divestasi tersebut berhasil menaikkan utilisasi tiga FLF yang dimiliki PSSI pada 2019.

Selain itu, rasio utang terhadap aset dan rasio utang terhadap ekuitas masing-masing sejumlah 28 persen dan 45 persen per 31 Desember 2019, meningkat dari tahun sebelumnya dengan adanya pinjaman bank yang sebagian besar digunakan untuk ekspansi armada kapal.

Jumlah ekuitas meningkat sebesar 23 persen menjadi US$88,6 juta dari US$71,7 juta di 2018 dengan kenaikan saldo laba (Retained Earnings) sebesar US$10,8 juta atau 48 persen dan tambahan modal disetor sebesar US$3,3 juta atau naik 143 persen.

"Perusahaan juga membukukan total pendapatan usaha sebesar US$75,3 juta di tahun 2019. Jumlah ini lebih tinggi US$11,8 juta atau 19 persen dibandingkan tahun sebelumnya," katanya dikutip dari keterangan pers pada Minggu (22/3/2020) di Jakarta.

Selanjutnya, perusahaan juga berhasil membelanjakan US$50,1 juta dari target anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$61,3 juta pada 2019 atau 82 persen dari anggaran. Realisasi tersebut sebagian besar digunakan untuk pembelian 4 unit MV, 1 unit Tugboat dan 2 unit Tongkang termasuk perbaikan dan pemeliharaan kapal (docking).

Aset perusahaan juga mengalami pertumbuhan sebesar 30 persen menjadi US$143,2 juta dari US$110,1 juta di 2018. Adapun ekspansi armada kapal sebagian besar menggunakan kas internal disamping pinjaman bank.

Perusahaan juga meningkatkan tarif muatan apung dan pengangkutan menjadi US$2,49 dari US$1,90 per metrik ton di 2018 atau naik sebesar 31,2 persen. Pendapatan muatan apung dan pengangkutan mengalami kenaikan 7 persen menjadi US$3,9 juta sementara itu pendapatan sewa berjangka naik signifikan sebesar 304 persen menjadi US$9,9 juta dari US$2,4 juta di 2018.

Selain itu, perusahaan menambah armada 4 unit kapal Kargo Curah (MV) menjadi total 6 unit. PSSI juga meningkatkan kapasitas kargo dari 63,0 ribu DWT menjadi 237,5 ribu DWT atau meningkat 277 persen dari 2018.

Penambahan 3 unit Kapal Tunda dan Tongkang (TNB) juga dilakukan sehingga menambah total armada sampai akhir 2019 sebanyak 87 unit. Jumlah tersebut juga termasuk tiga unit Fasilitas Muatan Apung (FLF).

Sementara itu, total kapasitas pengangkutan naik 55 persen menjadi 546,1 ribu metrik dari 352,5 ribu metrik ton pada 2018. Ditengah tantangan harga batubara thermal, total volume pengangkutan berhasil mencapai 96 persen dari target 2019 atau sebesar 30,2 juta metrik ton. Kenaikan terbesar dari segmen MV sebesar 277 persen menjadi 1,1 juta metrik ton dari 280,2 ribu metrik ton di 2018.

Sejalan dengan penambahan armada, biaya operasional juga mengalami kenaikan, termasuk konsumsi bahan bakar, suku cadang dan biaya kru kapal. Dengan pengendalian biaya yang berkelanjutan, marjin laba bruto PSSI pada 2019 tercatat sebesar 25 persen. Sementara itu, laba bruto mengalami kenaikan US$2,8 juta atau 17 persen menjadi US$19,1 juta dari US$16,3 juta di 2018

Selanjutnya, TNB menyumbang 51 persen dari total EBITDA diikuti FLF 30 persen dan MV 19 persen. Komposisi kontrak jangka panjang FLF mencapai 91 persen, TNB 74 persen, dengan masing-masing 9 persen dan 26 persen dari segmen tersebut adalah spot basis.

Dari total 6 unit MV, 3 unit mendapatkan kontrak jangka panjang Sewa Berjangka untuk pengangkutan batubara dan komoditas lain di nikel, klinker dan produk besi.

"Perusahaan akan terus mengeksplor target diversifikasi bisnis di luar komoditas batubara termasuk segmen MV dan TNB," imbuhnya.

Adapun ditengah tantangan pandemi Covid-19, tanggap dengan Perencanaan Kontinuitas (Business Continuity Plan), perseroan memastikan bisnis inti dan kesinambungan operasi tetap terjaga dengan terus melakukan tindakan pencegahan dan eksekusi strategi yang tepat untuk kelangsungan bisnis.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper