Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Bursa Global Naik Jelang Telekonferensi G7 Soal Virus Corona

Pasar saham global mampu menguat pada perdagangan siang ini, Selasa (3/3/2020), menjelang berlangsungnya telekonferensi (teleconference call) antara para menteri keuangan negara-negara G7 untuk merespons wabah penyakit virus corona (Covid-19).
Bursa Efek Frankfurt./ Alex Kraus - Bloomberg
Bursa Efek Frankfurt./ Alex Kraus - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Pasar saham global mampu menguat pada perdagangan siang ini, Selasa (3/3/2020), menjelang berlangsungnya telekonferensi (teleconference call) antara para menteri keuangan negara-negara G7 untuk merespons wabah penyakit virus corona (Covid-19).

Berdasarkan data Bloomberg, indeks futures Euro Stoxx 50 dan futures S&P 500 masing-masing naik 0,8 persen dan 0,1 persen pada pukul 4.07 sore waktu Tokyo (pukul 14.07 WIB).

Pada saat yang sama, indeks MSCI Asia Pacific berhasil naik 0,1 persen meskipun indeks Topix Jepang berakhir melorot 1,4 persen setelah sempat menanjak 1,7 persen.

Dilansir Bloomberg, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan The Fed 'harus mengurangi dan memotong suku bunga secara signifikan' setelah Australia menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Selasa (3/3/2020).

Pada akhir perdagangan Senin (2/3), indeks S&P 500 mampu mencatat lonjakan tertinggisejak Desember 2018, didorong optimisme investor bahwa otoritas negara-negara di dunia akan melancarkan tindakan untuk mengimbangi dampak dari wabah penyakit virus corona.

Sebelumnya, Gubernur Federal Reserve Jerome Powell menyatakan bank sentral AS tersebut bersedia bertindak sebagaimana mestinya untuk menopang ekonomi AS.

Dorongan penurunan suku bunga acuan meningkat seiring dengan anjloknya bursa saham AS sepanjang pekan lalu akibat kekhawatiran investor atas dampak wabah penyakit virus corona terhadap ekonomi AS dan global.

Pernyataan Powell serta merta mendorong ekspektasi peluang pemangkasan suku bunga acuan dalam rapat kebijakan yang akan berlangsung pada 17-18 Maret 2020.

Meski demikian, penguatan bursa Asia pascarebound Wall Street kemudian terkikis setelah sebuah laporan mengindikasikan negara-negara yang tergabung dalam kelompok G7 (Group of Seven) akan berhenti menentukan langkah moneter dan fiskal.

Imbasnya, nilai tukar yen Jepang dan Treasury AS, yang bersifat sebagai aset investasi aman (safe haven) di tengah ketidakpastian global mampu menanjak.

"Jika The Fed memberi kejutan dengan cara yang signifikan, itu bisa membantu [sentimen pasar] lebih jauh tetapi kita bisa berdebat bahwa pasar sudah mengabaikannya,” ujar Quincy Krosby, chief market strategist di Prudential Financial Inc.

“Saya juga ingin melihat apakah kita memiliki sesuatu dari sisi fiskal. Paket seperti upaya Italia senilai US$4 miliar adalah jenis berita utama yang akan meningkatkan kepercayaan bahwa pemerintah siap untuk bertindak," terangnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper