Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Virus Corona Tekan Indeks Global Sepekan Lalu

Kecemasan pelaku pasar terjadi karena penyebaran virus corona saat ini tumbuh lebih cepat di luar China.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 01 Maret 2020  |  08:43 WIB
Pedagang bekerja di lantai bursa New York Stock Exchange. - Michael Nagle / Bloomberg
Pedagang bekerja di lantai bursa New York Stock Exchange. - Michael Nagle / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Sepanjang pekan lalu, bursa global mendapatkan tekanan yang disebabkan oleh kekhawatiran penyebaran virus corona.

Seluruh indeks utama Wall Street turun sepekan, di mana Dow Jones turun 12 persen, Indeks S&P 500 turun 11,5 persen, dan Nasdaq terkoreksi 10,5 persen.

Pada perdagangan Jumat (28/2/2020), indeks Dow Jones masih mengalami tekanan dengan penurunan sebesar 351 poin atau 1,37 persen, S&P turun 25,54 poin atau 0,82 persen. Sementara itu, Nasdaq menguat 0,89 poin atau menguat tipis 0,01 persen dan indeks Dow Jones Index Future berhasil naik 327 poin atau 1,29 persen.

Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan seminggu lalu merupakan kinerja terburuk Wall Street sejak 2008. Kecemasan pelaku pasar terjadi karena penyebaran virus corona saat ini tumbuh lebih cepat di luar China.

"Hal ini menimbulkan kekhawatiran pada pasokan barang dan permintaan konsumen turun lebih besar dari estimasi sebelumnya," ujarnya Minggu (1/3/2020).

Akhir pekan lalu, Hans menuturkan indeks dunia turun akibat pejabat Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) mengkonfirmasi kasus pertama virus corona Amerika Serikat di California Utara. Pasien ternyata tidak memiliki riwayat perjalanan atau kontak, sehingga membuat orang tersebut berada dalam risiko terkena virus kcrona.

Gubernur California Gavin Newsom mengatakan pemerintah AS memantau sekitar 8.400 orang terkait virus yang berasal dari Wuhan, China tersebut.Pelaku pasar saat ini berspekulasi the Federal Reserve akan menurunkan suku bunga pada pertemuan Maret 2020 untuk memberikan stimulus menghadapi dampak penyebaran virus corona di dunia.

Pelaku pasar menilai suku bunga AS saat ini jauh lebih tinggi dibanding anggota G10 lainnya, sehingga memiliki ruang lebih luas untuk menurunkan suku bunga.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa virus corona memiliki potensi menjadi pandemi. WHO berpendapat epidemi virus corona telah mencapai titik puncak di China, tetapi kekhawatiran perluasannya penyebaran virus di negara-negara lain menimbulkan kekhawatiran para pelaku pasar.

Lembaga pemeringkat Moody's berpendapat dampak virus corona akan memicu resesi global pada paruh pertama tahun ini.

"Kami perkirakan wabah virus corona berhasil di tanggulangi, tetapi pertumbuhan global pada kuartal pertama 2020 akan terpukul turun," lanjut Hans. 

Bursa kawasan Eropa juga mengalami tekanan, seiring negara-negara kawasan Eropa juga mengalami penyebaran virus corona. Estonia, Denmark, dan Yunani melaporkan kasus pertama dan Inggris melaporkan dua kasus baru. Virus corona juga ditemukan di Austria, Swiss, dan Spanyol.

Prancis telah mengkonfirmasi kematian keduanya. Penyebaran virus ini menjadi perhatian utama di Italia karena menyebar ke selatan negara tersebut, di mana lebih dari 600 orang  tertular dan 12 orang meninggal dunia.

Pada Jumat lalu, beberapa negara mengumumkan kasus pertama, di antaranya Azerbaijan, Belarusia, Lithuania, Meksiko, Selandia Baru, dan Nigeria. Nigeria merupakan negara terpadat di Benua Afrika.

Pada awal pekan lalu, Kuwait, Bahrain, Oman dan Irak juga melaporkan kasus virus corona. Menurut Hans, dampak yang paling terasa adalah pembatasan perjalanan antar negara yang sangat berpeluang memukul industri transportasi dan pariwisata.

Sebelumnya, dilansir dari Bloomberg, ketakutan terhadap dampak wabah virus corona terus menyelimuti pasar saham di Asia dengan hampir seluruh indeks anjlok lebih dari 2 persen pada perdagangan Jumat (28/2/2020).

Indeks MSCI Asia Pacific di luar Jepang anjlok 2,31 persen ke level 638,37 pada pukul 14.52 WIB. Sementara itu, indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang ditutup merosot masing-masing 3,65 persen dan 3,67 persen.

Di China, indeks Shanghai Composite dan CSI 300 masing-masing melemah 3,55 persen dan 2,49 persen, sedangkan indeks Hang Seng melemah 2,49 persen pada pukul 15.02 WIB, Jumat lalu. Adapun, indeks FTSE Straits Time  Singapura turun 1,53 persen.

Sementara itu, Citigroup Inc. memangkas proyeksi pertumbuhan laba per saham emiten global menjadi nol persen untuk 2020 karena virus corona menghambat pertumbuhan ekonomi.

Saham global berada di jalur untuk minggu terburuk sejak krisis 2008, turun lebih dari 10 persen dari level puncak bulan ini. Penurunan tersebut terjadi setelah California mengatakan mereka sedang memantau 8.400 orang yang pernah melakukan perjalanan ke Asia. Sementara itu, kasus yang dikonfirmasi di Korea Selatan mencapai 2.000 dan Jepang mulai meliburkan sekolah-sekolah.

"Pasar takut bahwa gangguan ini akan memukul PDB dan kemudian akan berdampak pada laba pada tahap tertentu," ungkap CEO Ecognosis Advisory Co., Andrew Freris, seperti dikutip Bloomberg.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

indeks Virus Corona
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top