ARA Terus Mewarnai Pencatatan Saham Perdana, Ada Apa?

Analis Teknikal Panin Sekuritas William Hartanto mengatakan fenomena ARA yang kerap terjadi hanya berlaku bagi emiten yang menawarkan saham sebanyak-banyaknya 30 persen dari modal yang ditempatkan secara penuh.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 13 Februari 2020  |  05:44 WIB
ARA Terus Mewarnai Pencatatan Saham Perdana, Ada Apa?
Pengunjung berada di sekitar layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Rabu (29/1/2020). JIBI/Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Selama tahun berjalan dari 12 emiten yang melantai di Bursa Efek Indonesia, semua langsung menyentuh batas ‘Auto Reject Atas’ (ARA) pada hari pertama. Padahal dari sisi fundamental maupun teknikal, saham emiten itu belum terkalkulasi. Ada apa?

Analis Teknikal Panin Sekuritas William Hartanto mengatakan fenomena ARA yang kerap terjadi hanya berlaku bagi emiten yang menawarkan saham sebanyak-banyaknya 30 persen dari modal yang ditempatkan secara penuh. Syarat kedua adalah harga saham mesti kurang dari Rp500 per saham.

William menambahkan semakin sedikit saham yang dilepas dan semakin rendah harga akan mudah untuk menciptakan situasi ARA pada sebuah emiten. Pasalnya harga pembelian satu lot lebih terjangkau dan sesuai dengan kemampuan beli banyak investor lokal.

“Tren ARA pasti akan ada terus, ini adalah aksi spekulan. Seringkali transaksi ARA itu kecil dengan penawaran yang tebal bisa jadi ada ganjalan atau dijaga,” katanya kepada Bisnis pada Selasa (12/2).

Menurutnya, penguatan saham emiten anyar sampai menyentuh ARA hanya berlangsung jangka pendek. Investor, lanjutnya, bakal mengambil keuntungan dalam jangka pendek sehingga harga kembali normal.

Meski demikian, William tetap menyarankan beli tapi dengan jangka pendek saja. “Fundamental belum jelas dan teknikal belum ada. Kalau hanya untuk jangka pendek, ikut masuk boleh saja,” katanya.

Sementara itu, Head of Research Samuel Sekuritas Suria Dharma mengatakan fenomena ARA yang kerap mewarnai prosesi pencatatan perdana adalah penggiringan harga saham. Sama halnya dengan William, dia berpendapat itu dapat terjadi karena saham yang beredar sedikit.

“Karena saham yang beredar itu sedikit sehingga mudah terjadi cornering,” katanya.

Analis Indo Premier Sekuritas Mino berpendapat saham-saham anyar bakal melanjutkan tren auto reject atas. Pasalnya, investor tertarik untuk mengambil untung jangka pendek.

“Investor tidak berpikir untuk jangka panjang atau fundamental. Mereka pun berekspektasi harga di awal bakal naik untuk kemudian dijual,” katanya.

Saham Baru = Harga Murah?

Sementara itu, Kepala Riset Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi mengatakan fenomena ARA terjadi karena secara teori investor meminati emiten-emiten anyar. Harga saham yang murah, lanjutnya, berpotensi menarik minat banyak investor.

“Nah murah atau mahal biasanya investor melihat book value-nya yakni total ekuitas setelah IPO dibagi jumlah lembar saham yang beredar setelah IPO. Apabila masih dibawah 2 kali dengan harga saham yang ditawarkan masuk kategori murah,” katanya.

Selain itu, penjamin efek atau underwriter juga berperan untuk menjaga harga saham emitennya di pasar sekunder setelah melewati pasar primer pada saat book building. Namun, di sisi lain, bisnis yang digeluti perseroan harus minim kompetitor dan dana IPO mayoritas dihabiskan untuk ekspansi usaha.

Investor, lanjutnya, enggan masuk bila rencana penggunaan dana IPO lebih besar porsinya untuk membayar hutang, tujuan go public untuk melepas kepemilikan pengendali dan tidak memiliki rencana yang konkret ke depan.

“Belum tentu ARA akan terus berlanjut. Semua tergantung prospek saham harga saham yang ditawarkan. Kalau menarik ya ARA,” ungkapnya.

Manipulasi Pasar

Di sisi lain, Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Prof. Budi Frensidy menyampaikan fenomena ARA yang terus berlangsung sejak awal tahun bisa jadi adalah manipulasi pasar. Menurutnya, otoritas dan pelaku pasar perlu mewaspadai gejala ini.

“Dapat mengarah ke manipulasi pasar jika kondisi free float dan jumlah pihak [investor] sedikit. Jika baru ARA sekali dengan kenaikan sekitar 30 persen sampai 50 persen dari harga IPO mungkin masih masuk akal. Tapi kalau seratus persen atau lebih hanya dalam beberapa minggu, sangat wajar untuk diwaspadai,” katanya.

Budi khawatir kalau porsi free float kecil dan pihak yang membeli hanya kurang dari 300 orang maka kondisi penguatan harga tidak akan bertahan lama. Oleh sebab itu dia berharap otoritas lebih cermat menanggapi fenomena ini.

“Bisa jadi dicermati atau ditambahkan syarat free float dan banyak pihak [investor],” katanya.

IPO Kerap Dikendalikan Segelintir Orang

Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hoesen menyatakan fenomena IPO di pasar saham kerap kali dikendalikan segelintir orang karena pembentukan harga yang tidak efisien.

Menurutnya, untuk mengatasi fenomena tersebut diperlukan sistem tangguh untuk mengendalikan pasar primer. Dia menilai melalui sistem pemesanan elektronik atau e-bookbuilding agar seluruh investor di pasar saham bisa memiliki kesempatan yang sama untuk melakukan pemesanan saham emiten baru.

“Harapannya dengan electronic bookbuilding itu transparan dari sejak alokasi di awal dan akan melibatkan [investor] enggak bisa ngatur itu kalau perlu, enggak ada 100 persen fix allotment,” katanya. Namun sampai dengan saat ini proses sistem pemesanan elektronik masih belum diterapkan oleh otoritas bursa.

Dihubungi secara terpisah, Associate Director of Investment Banking NH Korindo Sekuritas Rama Gautama yang menjadi penjamin efek PT Agro Yasa Lestari Tbk. (AYLS) mengatakan tidak tahu menahu alasan naiknya saham kliennya itu.

Kecewa di Saham Nara

Kemarin, harga saham AYLS pun melompat dari level Rp100 per saham menuju Rp170 per saham atau naik 70 persen. Perseroan membukukan transaksi perdagangan sebanyak 10 kali dengan nilai Rp1,96 juta.

Fenomena ARA telah mendorong investor ritel beramai-ramai memborong saham Nara Hotel tanpa memperhatikan prospektus. Mereka berharap di hari pertama harga saham dapat melonjak seperti sebelumnya.

Namun, pencatatan justru tertunda karena para investor ketakutan harga bakal jatuh. Pasalnya, dari 2 miliar saham yang baru diterbitkan 99 persen komposisi kepemilikan dimiliki oleh investor ritel. “Kalau [komposisinya] seperti ini siapa yang berani menjaga harga tetap naik? Pasti langsung jatuh di hari pertama,” ungkap sumber Bisnis.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ipo, top gainers

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top