Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Alfa Energi (FIRE) Tak Ekspansif Masuk Pasar Batu Bara Kalori Tinggi

Alfa Energi Investama akan tetap mempertahankan rencana produksinya pada tahun ini meskipun pemerintah telah membatasi produksi batu bara dalam negeri.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 05 Februari 2020  |  06:40 WIB
Warga memancing ikan di sekitar kapal tongkang pengangkut batu bara di perairan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (30/10/2018). - ANTARA/Aji Styawan
Warga memancing ikan di sekitar kapal tongkang pengangkut batu bara di perairan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (30/10/2018). - ANTARA/Aji Styawan

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten pertambangan batu bara PT Alfa Energi Investama Tbk. tidak akan ekspansif untuk merambah pasar batu bara dengan kalori tinggi meskipun di tengah pembatasan produksi batu bara berkalori rendah oleh pemerintah.

Aris Munandar, Direktur Utama Alfa Energi Investama, mengatakan bahwa pihaknya akan tetap mempertahankan rencana produksinya pada tahun ini meskipun pemerintah telah membatasi produksi batu bara dalam negeri.

Untuk mengatasi hal tersebut dan berlanjutnya tren pelemahan harga batu bara, pihaknya berubah menjadi tidak begitu ekspansif di pasar batu bara berkalori tinggi.

Sebagai catatan, kontribusi batu bara emiten dengan kode saham FIRE itu adalah sebesar 60 persen berasal dari batu bara dengan kalori rendah yang diproduksi langsung oleh perseroan dan sebesar 40 persen berasal dari batu bara dengan kalori tinggi yang didapatkan melalui trading.

“Rencana produksi akan tetap sama tetapi, tahun depan batu bara yang kami trading akan targetkan sama kayak tahun lalu tidak ekspansif, tidak menurun dan tidak bertambah karena market yang belum stabil,” ujar Aris saat dihubungi Bisnis, Selasa (4/2/2020).

Adapun, Aris menargetkan volume batu bara perseroan secara keseluruhan pada tahun ini di level 1,5 juta ton hingga 1,6 juta ton, dengan rincian sekitar 500.000 ton berasal dari trading batu bara kalori tinggi dan sekitar 1,1 juta ton berasal dari produksi batu bara kalori rendah.

Aris mengaku masih mempertimbangkan untuk menggenjot kapasitas produksi perseroan terhadap batu bara kalori tinggi saat ini di tengah kondisi pasar yang dipenuhi oleh banyak ketidakpastian.

Dia mengatakan, produksi batu bara kalori tinggi dari FIRE baru akan berkelanjutan jika harga batu bara patokan di bursa Newcastle bergerak stabil di kisaran US$75 per ton, mengingat biaya produksi batu bara berkalori tinggi yang juga cukup menguras kantong.

Namun, nyatanya berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Senin (3/2/2020), harga batu bara patokan di bursa Newcastle kontrak Februari 2020 tidak bergerak dari perdagangan sebelumnya di level US$66,3 ton. Sepanjang tahun berjalan 2020, harga telah bergerak melemah 3,98 persen.

Dia memproyeksi harga batu bara masih dapat tumbuh dengan baik pada tahun ini didukung oleh pembatasan produksi oleh Indonesia. Kebijakan pemerintah tersebut dinilai akan menjadi sinyal terhadap pasar bahwa situasi kelebihan pasokan akan segera berakhir.

Sebagai informasi, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membatasi produksi batu bara dalam negeri menjadi sebesar 550 juta ton pada tahun ini. Sesungguhnya, target produksi tersebut naik dibandingkan dengan target produksi 2019 sebesar 489 juta ton.

Hanya, realisasi produksi batu bara domestik pada 2019 melesat jauh di atas target yaitu 610 juta ton atau naik dari 124,74 persen dari target dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Hal tersebutlah yang membuat Kementerian ESDM untuk mengatur produksi batu bara dalam negeri lebih ketat.

Kendati demikian, penyebaran virus corona yang belum menunjukkan sinyal peredaan telah menjadi katalis negatif dalam beberapa perdagangan terakhir seiring dengan permintaan batu bara dari China, salah satu konsumen batu bara terbesar dunia, terhambat akibat terbatasnya aktivitas pengiriman menuju China.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

batu bara
Editor : M. Taufikul Basari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top